Tags

, , , , , , , , , , , ,

Sebuah tendangan kecil, ditambah tangan mungilnya yang menarik-narik baju Aini sebagai tanda haus menginginkan susu, lalu jika tak digubris maka seketika ia akan menangis. Tangisan dari surga tanpa dosa itulah yang membangunkan tidurku pada sahur pertama Sabtu 27 Mei 2017 kemarin tepat pada jam 4 pagi, alias setengah jam kurang sebelum imsak dan adzan subuh.

4 bulan lebih sudah ia hadir ke dunia. Dalam rentang waktu itu pula lah ia berkembang begitu pesat. Dari berat lahir di kisaran 2.71 kilogram, hingga kini telah mencapai tak kurang dari 8.1 kilogram. Tingkah laku, kepolosan, pipi yang tembem, bentuk kepala yang sempurna, suara yang merdu, kaki yang montok, tawa yang renyah, dan juga tangisan yang indah, semuanya terangkum dalam satu nama ‘Zufar Qalifa Ghaizannoah’.

Laksana anak panah yang melesat begitu cepat, detak waktu pun tak memandang ketidaksiapan kita untuk mengejar kecepatan larinya, ia melaju dan melaju tanpa henti, hingga tersadarkan telah berada dimana kita saat ini.

Tahun lalu, Ramadhan masih saya lalui berdua saja bersama istri, walau ia telah berbadan dua, tapi kehamilannya belum memasuki bulan ke-4 sehingga dapat saya katakan kalau Zufar belum benar-benar hadir saat itu.

Dan dengan berbagai perjuangan dan lika liku nya, kami berdua dimampukan oleh Allah SWT untuk menyelamatkan nyawa kehadirannya ke dunia. Tak sedikit cerita yang dapat membuat kami tersenyum mengingat kembali masa-masa perjuangan itu. 

Mulai dari Aini yang mengalami pendarahan di awal kehamilan sehingga harus diopname serta full bed rest selama beberapa minggu, lalu momen dimana Aini harus kembali bed rest setelah melalui tes CTG akibat gerak bayi yang sangat aktif , daya juang Aini yang hebat yang rela meluangkan waktu untuk senam hamil dan jalan kaki entah itu ke supermarket ataupun ke tukang kelapa muda, dan yang paling krusial adalah momen kegalauan beberapa kali ganti dokter dan rumah sakit (Mulai dari RSIA Kemang dengan dr. Agung Witjaksono, lalu mencoba ke dr. Kingky Tjandraprawira di RSIA Limijati, hingga akhirnya menetapkan pilihan pada RSIA Grha Bunda dibawah penanganan dr. Anita Rachmawati ; dengan pertimbangan jarak RS yang cukup dekat dari rumah Aini, serta yang paling utama adalah karena ia perempuan).

Kini Ramadhan telah kembali menyapa. Suasana khasnya sudah begitu terasa. Lantunan pengajian bergema, penjaja takjil marema, shalat malam seirama, makan sahur dan buka puasa bersama keluarga. Nikmat sekali. Sudah sebuah rezeki dapat kembali dipertemukan dengan bulan penuh berkah ini, apalagi dengan ditambah kehadiran istri dan anak laki-laki pemberani nan sholeh di dalamnya. Maka mari bersyukur atas segala yang telah Ia cukupkan kepada kita.

Advertisements