Tags

, , , ,

pic: loudwire.com

“Holding on, why is everything so heavy.”

Penggalan lirik di atas sedang sering sekali keluar masuk telinga saya. 

Tak ada yang nampak salah dan janggal, departemen lirik oke, aransemen musik easy listening, ditambah beberapa part yang ketukannya sedikit tidak familiar di telinga pop indo saya, namun setelah didengar berulang menjadi sebuah signature di lagu ini (part awal: “I don’t like my mind right now. Stacking up problems that are so unecessary..”)

Semua nampak ‘tidak pada tempatnya’ setelah tersadarkan pada kenyataan bahwa lagu ini merupakan single terbaru Linkin Park, sebuah band yang kental dengan genre nu-metal pada awal kemunculannya.

Sebenarnya momen ini bukanlah kali pertama saya menyadari adanya pergeseran genre yang diusung oleh LP. Track ‘What I’ve Done’ dan ‘New Divide’ menjelaskan semua, bahwa mungkin secara perlahan, LP ingin beralih dari bayang-bayang kesuksesan Hybrid Theory dan Meteora, mereka tak ingin terjebak di sana, di zona nyaman yang membesarkan mereka hingga imej tersebut sudah terlalu kuat mengikat.

Tak heran, saya cukup terperangah sesaat setelah pertama kali mendengarkan “Heavy”. Semuanya seperti ditelan bumi, tidak ada lagi aroma Faint, Breaking The Habit, serta Numb di dalamnya, berubah secara drastis menjadi pure mellow pop mainstream yang akan mudah sekali disukai banyak kalangan.

Lagu ini membuat saya sejenak berhipotesa, menebak beberapa kemungkinan alasan dibalik pergeseran musikalitas mereka. Apakah:

a. disebabkan oleh tidak memuaskannya penjualan serta respon pasar terhadap “The Hunting Party” album terakhir mereka sebelum ‘Heavy’

b. murni karena sebagai musisi mereka selalu ingin bereksplorasi dan tak hanya hidup di satu genre saja

c. karena Chester Bennington sudah tidak terlalu mumpuni lagi atau merasa lelah untuk melakukan scream berulang kali dalam tour nya

d. karena alasan untuk re-generasi penggemar. Lagu-lagu pop seperti ini mungkin mereka anggap sebagai senjata ampuh merengkuh pasar orang-orang kelahiran tahun 2000 keatas yang sedang beranjak dewasa, karena di satu sisi penggemar lama mereka semakin menua dan tidak bertambah secara signifikan.

e. strategi pemasaran album terbaru mereka ‘One More Light’ yang akan rilis tengah Mei ini.

Dari 5 kemungkinan di atas, poin ‘b’ lah yang sering diutarakan oleh pentolan LP, Mike Shinoda di kala sesi wawancara terhadap pertanyaan yang telah sering ditanyakan banyak orang tersebut. Walau tak menutup kemungkinan poin b tersebut diutarakan untuk menutupi alasan sebenarnya. Maybe

“The band, with every album, every song we’re trying to challenge ourselves. We like to try new things. We want to explore new territory with the sounds and the songwriting. We’ve always been about mixing styles; I mean, Hybrid Theory was the name of our band before we changed it to Linkin Park. Linkin Park fans know that with every album you never know what you’re going to get, and the style can change dramatically and different elements, different genres that we listen to might sit more in the forefront than others.” – Mike Shinoda, 2017 

(http://www.billboard.com)

Melihat perubahan dramatis ini, saya sempat iseng mencari di Youtube dan menemukan cukup banyak musisi cover yang mengaransemen ulang Heavy ke dalam versi ideal mereka, yang kebanyakan ditransformasikan ke arah Rock dan Metal version. Jika dikatakan ‘Heavy’ adalah strategi pemasaran mereka, kemunculan banyak musisi yang membuat cover lagu tersebut bisa menjadi indikator keberhasilan awal mereka dalam menjual album ke-7 ini (Bahkan saya pun dengan sendirinya tergerak untuk menuliskan posting blog ini, tanpa diminta).

Pro kontra yang bermunculan pun tak kalah menarik. Perang komentar terbangun tanpa dapat dibendung yang meningkatkan level viralitas ‘Heavy’ beserta ‘One More Light’.

Dengan segala kontroversinya, kita tinggal menunggu dan menyaksikan sejauh mana album terbaru mereka mampu mengaum dan bergaung.

Advertisements