Back again,

Sudah lama blog ini tidak terisi sesuatu, sedikit berdebu dan harus dihiasi kembali dengan cerita yang baru.

Well, ini tentu bukanlah cerita baru. Sudah 3 bulan lebih berlalu semenjak hari itu, hari dimana saya bertemu untuk kali pertama dengan sesosok bayi laki-laki sehat yang terlahir ke dunia dengan berat 2.71 kg + tinggi 49 cm, disematkan padanya nama indah: Zufar Qalifa Ghaizannoah.


Singkat cerita,

istri saya, Aini, telah memasuki minggu-minggu rawan terjadinya persalinan pada awal Januari 2017. Bulan-bulan sebelumnya, dokter yang memeriksanya memberikan sebuah prediksi bahwa kemungkinan besar persalinan terjadi sekitar tanggal 20an Januari, bisa lebih cepat ataupun lebih lambat 2 minggu, tidak dapat dipastikan secara merinci.

Semenjak kehamilannya memasuki bulan ke 8, Aini memang sudah memutuskan untuk cuti melahirkan dan mengungsi ke rumahnya di Bandung, sementara saya tetap berada di Jakarta untuk mengurus bisnis saya kala itu, Martabak Mini Rainbow di bilangan Ampera Raya, Jakarta Selatan, dan hanya pulang sekitar 2 minggu sekali.

Lalu pada tanggal 4 Januari 2017, Aini memutuskan pergi ke dokter karena beberapa kali merasakan gerakan-gerakan pada perutnya. Namun di akhir konsultasi, dokter menyimpulkan bahwa persalinan kemungkinan besar terjadi 2 minggu lagi. Saya yang kala itu berada di Jakarta cukup tenang dengan informasi tersebut dan menunda kepulangan saya ke Bandung karena menurutnya masih 2 minggu lagi.

Tak disangka keesokan paginya, saya mendapatkan kabar mengejutkan. Kabar tersebut tidak datang dari Aini, namun dari ibu saya yang berkata bahwa Aini sedang menuju RSIA Grha Bunda karena sudah mengalami kontraksi serta memasuki tahap pembukaan 5. Pesan Line tersebut saya terima mungkin sekitar jam 8 pagi.

Berbekal googling tentang informasi durasi jeda antar pembukaan, saya yang masih awam mengenai hal ini berkesimpulan bahwa rata-rata untuk persalinan pertama biasanya pembukaan 10 alias terakhir dicapai setelah menghabiskan waktu kurang lebih 12 jam semenjak masuk ke ruang UGD.

Dengan asumsi tersebut, saya berharap masih memiliki waktu untuk dapat menemani perjuangannya dalam melahirkan anak pertama kami. Benak awam saya berhitung sejenak dan menghasilkan hipotesa bahwa pembukaan 10 kemungkinan masih sekitar 6-7 jam lagi, atau sekitar jam 2 sore. Lagi-lagi semua hanya berdasarkan info googling tadi.

Di situasi nyata, hal tersebut terbantahkan. Kuasa Allah bermain di sana.

Aini diberi kemudahan yang sangat luar biasa dalam proses melahirkannya.

Sungguh di luar dugaan, pembukaan 10 berhasil ia capai pada jam 09.31, alias hanya berselang satu setengah jam dari kondisi pembukaan 5! Kaget dan takjub menjadi satu.

Saya yang saat itu masih berada di Bus menuju Bandung (Tiket travel sold out, karena semua serba dadakan) hanya dapat mengucap syukur Alhamdulillah, walau tersimpan sedikit rasa penyesalan tidak dapat mendampingi istri dalam jihadnya secara langsung.

Namun, saya rasa semua itu hanya skenarioNya. Legowo saja.

Saya baru dapat tiba di Bandung pukul 16 lebih, setelah menempuh perjalanan hampir 7 jam, dikarenakan bus yang tidak dapat melewati tol Purbaleunyi akibat sedang adanya perbaikan dari Jembatan Cisomang. Dan baru benar-benar tiba di Rumah Sakit pada jam 5 sore.

Akhirnya, perjumpaan pertama itu terjadi.

Sosok yang selama ini hanya dapat kulihat melalui USG, dari tendangan-tendangannya di dalam perut, ternyata memiliki wajah yang sangat rupawan, suara tangisan yang indah, dan Insya Allah calon laki-laki yang tumbuh menjadi orang yang sholeh dan sukses. Aamiin YRA.


Do not forget to watch the video above, and subscribe to my Youtube channel! 😉

Advertisements