Tags

, , , , , ,

Usia Kehamilan 4 Bulan

Memiliki keturunan merupakan impian hampir setiap pasangan suami istri. Ada yang diberikan sesegera setelah menikah, ada pula yang harus bersabar dan menanti cukup lama untuk menimang anak pertamanya. Ada yang memang ingin segera memiliki anak, ada pula yang memang menunda dahulu demi tujuan-tujuan lain yang ingin dicapai. Skala prioritas bermain di sini.

Saya dan Aini termasuk ke dalam kategori pertama: Segera diberikan amanah untuk memiliki keturunan, dan memang tidak menundanya. Alhamdullillaaah. Segala jenis perasaan bercampur aduk. Seperti halnya membeli kucing untuk dipelihara, di satu sisi ada rasa senang yang dirasakan, di sisi lain tak sedikit biaya yang perlu dikeluarkan dan bertambah pula tanggung jawab yang diemban.

Awal SEMula

Pertama kalinya kabar gembira ini diketahui yaitu di pertengahan Mei. Saat itu Aini memang sudah telat haid beberapa hari (kalau tidak salah lebih dari 4 hari), dan kami memutuskan membeli test pack untuk menguji kebenarannya. Setelah dites pada pagi hari, karena konon urine terbaik untuk uji kehamilan adalah di pagi hari, hasilnya pun Alhamdulillah positif.

Demi mempertebal keyakinan, kami pun datang ke Rumah Sakit Ibu dan Anak Kemang Medical Care (RSIA KMC) untuk melakukan check and re-check. Di RSIA KMC ini, Aini ditangani oleh Dr. Agung Witjaksono, SpOG. Dan benar saja, Aini memang telah dikaruniai jabang bayi yang akan dikandungnya selama 9 bulan ke depan terhitung mulai saat itu. Karena terakhir kalinya Aini mengalami haid adalah di tanggal 21 April, maka ditetapkan di tanggal tersebutlah awal perhitungan kehamilan.

Biaya MASA Kehamilan = Ujian Keikhlasan

Setelah mengalaminya secara langsung, saya menyadari satu hal: Bahwa membesarkan anak itu tidak semata-mata bermodalkan cinta belaka, namun membutuhkan tak sedikit biaya. Budgeting bulanan tak pelak harus selalu dilakukan, begitupun dengan pencatatan keuangan yang rapih dan terperinci agar memudahkan menentukan proyeksi bujet di bulan-bulan mendatang. Untuk keperluan pencatatan pengeluaran harian dan bulanan, kami membuat 1 sheet khusus bernama “Financial Book” di Google Drive yang dapat diakses melalui smartphone sehingga pencatatan dapat dilakukan setiap saat.

Semua ini saya lakukan bukan karena terlalu perhitungan, tetapi agar semua terdokumentasi rapih sehingga kita dapat memperkirakan berapa rata-rata pengeluaran bulanan, apa yang menjadi pengeluaran terbesar, apa yang menjadi pengeluaran tetap setiap bulannya, berapa rata-rata pengeluaran tak terduga yang biasa terjadi, apa yang harus ditekan pengeluarannya, dan sebagainya. Terdengar mudah, namun pada pengaplikasiannya butuh konsistensi dan kedisiplinan tinggi dalam mencatat setiap expenses tersebut, setiap hari.

Berdasarkan pencatatan yang dilakukan sampai tulisan ini published, total biaya yang saya sendiri keluarkan dari bulan Juni untuk kebutuhan ibu hamil kurang lebih mencapai IDR 7.425.800. Rinciannya:

#May

  1. Biaya rawat inap RSIA KMC: +- IDR 3.000.000

#Juni

  1. Susu ibu hamil Lactamil (3 pack): IDR 141.000
  2. Konsultasi dokter: IDR 350.000 – Discount 225.000 = IDR 125.000
  3. USG Transvaginal 2D: IDR 258.200
  4. Folavit 1000 MCG (30 tablet): IDR 75.000
  5. Duvadilan 20 mg (30 tablet): IDR 231.000
  6. Utrogestan 200 mg (28 tablet): IDR 691.600

#Juli

  1. Utrogestan 100 mg (3 tablet): IDR 35.200
  2. Investasi Reksadana Pasar Uang di IPOTFUND untuk kebutuhan persalinan (Maybank Dana Pasar Uang & Mega Asset Multicash): IDR 1.500.000
  3. Konsultasi dokter: IDR 350.000
  4. USG 2D: IDR 160.000
  5. CAL-95 (30 tablet): IDR 186.000
  6. Lactamil Pregnanis 400gr: IDR 67.500
  7. Promavit (30 tablet): IDR 79.000

#Agustus

  1. Konsultasi dokter: IDR 350.000
  2. USG 2D: IDR 160.000
  3. Mefinal (10 tablet): IDR 19.000
  4. Investasi Reksadana Pasar Uang di IPOTFUND untuk kebutuhan persalinan (Maybank Dana Pasar Uang): IDR 1.500.000

Itu pun masih diluar dari biaya makan, minum, biaya membeli buah-buahan saat ngidam buah tertentu, baju ibu hamil, dan lain-lainnya.

Hal-hal di atas semata-mata saya share agar para pasangan yang kelak menikah kurang lebih memiliki gambaran yang jelas tentang kisaran biaya yang perlu dikeluarkan setiap bulannya di masa kehamilan. Sebenarnya pengeluaran di atas bisa lebih ditekan jika tidak berkonsultasi di RSIA KMC, namun karena RS ini yang paling dekat dari tempat tinggal saat ini di Ragunan, dan juga karena ada kenalan ua yang bekerja di sini, jadilah sampai saat ini kami tetap datang ke sana hampir setiap bulan.

The Speechless Moment

Mengintip detak kehidupan di balik rahim merupakan pengalaman yang baru juga bagi saya dan Aini. Menegangkan dan menyenangkan di waktu yang sama. Seperti menyaksikan film-film bertemakan perjuangan demi merebut kebebasan, ada potensi hidup dan mati di dalamnya.

Di awal kehamilannya, Aini mengandung janin yang masih sangat lemah dan rentan mengalami keguguran. Setelah beberapa minggu pasca mengetahui perihal kehamilannya, Aini harus meringkuk di rumah sakit karena mengalami pendarahan/flek. Saya yang baru pertama kali berada di posisi tersebut cukup panik melihat pendarahan yang muncul. Kebetulan pada hari tersebut saya pun sedang sakit dan tidak masuk kerja sehingga Aini dapat sesegera mungkin dibawa ke KMC.

Aini diterima di UGD lalu diperiksa kondisi terakhirnya. Setelah pemeriksaan tersebut, dokter berkesimpulan bahwa Aini harus menjalani rawat inap setidaknya 2-3 hari ke depan. Di sana saya menghela nafas, selain mengkhawatirkan nasib kandungan Aini, di pikiran saya terbayang besarnya biaya rawat inap yang perlu digelontorkan.

Beruntungnya, masih ada orang-orang baik di sekitar kami yang mengulurkan bantuan mereka tanpa diminta dalam bentuk moril maupun materiil. Tak lain tak bukan adalah orangtua kami. Mereka membantu sebisa mereka sehingga biaya yang kami keluarkan tidak sebesar jika harus ditanggung seorang diri.

Semenjak itu, tidak terasa kandungan Aini terus menunjukkan progres yang menggembirakan. Dari semula berada di dalam kondisi kritis, sampai akhirnya kami menyaksikan dengan mata kepala sendiri janin itu berkembang hingga telah memiliki jantung, tulang punggung, tangan, kaki, dan juga kepala yang menuju sempurna. Itu terjadi saat kami melakukan USG pada 30 Juli 2016 yang lalu di usia kehamilan Aini yang menginjak 3 bulan lebih. Mata seolah tak percaya melihatnya. Melihat kehidupan yang sedang terjadi di dalam rahim, sedang berjuang hingga jalan keluar itu terbuka pada waktunya.

TASYAKUR BI NI’MAH

4 bulan pun berlalu dari tanggal pertama Aini didiagnosis mengalami kehamilan. Logikanya, pada tanggal 14 atau 21 Agustus 2016 yang lalu, kandungan Aini telah tumbuh selama kurang lebih 16 minggu.

Sesuai janji Allah SWT, pada usia kandungan 4 bulan lah ruh ditiupkan ke dalam janin yang sedang berkembang, bersamaan dengan ditulisnya nasib, peruntungan, serta masa depan dari Sang buah hati. Perasaan tegang, gugup, dan senang pun bercampur baur seperti adonan martabak manis yang siap dituangkan ke penggorengan.

Dalam rangka mengucap syukur kami pun menggelar acara Tasyakur Bi Ni’mah yang hanya mengundang keluarga besar dan beberapa teman dekat.

(Baca selengkapnya: Tasyakur 4 Bulan Kehamilan Aini)

MASIH ADA SEPARUH JALAN KEDUA

Kami sadar perjuangan ini masih berlanjut. Bahkan setelah kelahirannya nanti pun, perjuangan itu tidak serta merta berakhir. Kelahirannya justru menandakan babak baru perjuangan kami, yaitu membesarkan anak hingga mampu terbang dengan penuh keberanian menggunakan ‘sayap’ nya sendiri nanti di belantara kehidupan yang keras.

Untuk dasar itu, bermodalkan keyakinan, usaha, doa, dan kepasrahan pada Sang Pencipta, kami pun meneruskan perjalanan. Perjalanan menanjak yang berbatu, namun kami percaya di puncak sana terbentang pemandangan indah yang sejuk dan menyegarkan pikiran.

handry

Advertisements