Tags

, , , , , , , , , , ,

Ketika menjabat tangan ayah mertua, menjadi momen yang paling monumental dalam kehidupan ini, karena di sana tertuang janji, terucap kalimat yang singkat namun bermakna dalam. Pada akhirnya, terbukalah gerbang, gerbang yang mengantarkanku ke medan juang. Memperjuangkan kehidupan.

Jum’at – 8 April 2016

Hari itu, jika diingat kembali, adalah hari yang sangat panjang. Sedari shubuh saya tidak lepas untuk menarik nafas panjang, memupuk mental agar siap untuk berucap, mengalirkan kalimat berawalan “Saya terima…” yang telah kulatih berulang kali, entah itu di kamar tidur maupun di kamar mandi sambil mengguyurkan gayung berisikan air dingin yang menyegarkan.

Lantunan pengajian yang mengawali prosesi hari ini berlangsung dengan fokus yang tinggi, namun berhasil dicairkan oleh wejangan yang disertai guyon dari Ustadz Azis. “Pernikahan itu seperti pantai. Nampak indah kala kita berada di tepian, namun ketika mulai melaut akan mulai terasa bergoyang oleh ombak, di sanalah semuanya akan dimulai untuk mencapai tujuan.” begitu kira-kira kalimat yang paling kuingat, padat mengena, matapun mulai berkaca-kaca.

Butiran air mata tak tertahan lagi dan mengalir saat prosesi sungkeman. Prosesi yang paling menguras emosi dan memaksa pikiran mundur melintasi waktu, kembali ke masa dimana dosa-dosa begitu banyak tercurah, membebani orang tua dengan bermacam perilaku. 25 tahun berlalu semenjak tangisan pertama di dunia, tepatnya di Rumah Sakit Limijati, pada hari ini saya kembali menangis, memohon doa restu dari mereka yang telah memperjuangkan kehidupan dan nyawa anaknya, berkorban banyak hal, menguras keringat hanya demi menyambung umur Sang buah hati dari waktu ke waktu, dengan tanpa lelah mereka berjuang, dalam lelahnya mereka masih dapat tersenyum, mengajarkan anaknya banyak hal mulai dari ilmu agama, pendidikan tata krama, dan bekal ilmu menghadapi dunia. Hari ini, saya pamit untuk berjuang, memperjuangkan kehidupan dan nyawa berikutnya.

IMG_9555.JPG

photo by: @brillianttb

IMG_9587.JPG

photo by: @brillianttb

 Sesaat setelah sungkem berakhir, telah menanti prosesi siraman untuk dilaksanakan. Menurut adat Jawa, mempelai akan disiram menggunakan air yang telah dikumpulkan dari 7 mata air yang berbeda-beda, yang tentunya salah satunya berasal dari air di rumah Aini. Bergantian orang tua, eyang, dan beberapa perwakilan keluarga mengguyuri sekujur badan saya sambil mengucapkan doa-doa positif yang dengan mudahnya kuamini.

Di waktu yang bersamaan, dikediamannya, keluarga Aini melaksanakan pengajian, siraman, dan sungkeman dengan mengedepankan adat Sunda sesuai latar belakang mereka yang asli Sukabumi. Aini terlihat sangat bersinar dengan berbalut pakaian syar’i berwarna biru. Keseluruhan rangkaian acara berlangsung dengan khidimat, haru, sekaligus ceria. Mulai dari pengajian, siraman, sungkeman, dan sawer hadiah. Air siraman yang digunakan di rumah Aini langsung diberangkatkan ke rumah orangtua ku sebagai salah satu dari 7 sumber mata air. yang digunakan saat prosesi siraman

12

13

IMG_8625IMG_90958

Selepas shalat Jum’at dan beristirahat sejenak, rombongan siap melangkah ke Jalan Squash untuk mengantarkanku menjalani prosesi utama: Ijab Qabul. Selama perjalanan di dalam mobil, Mamah selalu mencoba memberi kekuatan dan dorongan semangat, dan mengingatkan agar tetap tenang. Hal tersebut pun menjadi kekuatan tersendiri yang membuat saya jauh lebih siap. Tepat pukul 16.00 WIB, kami semua telah tiba di Jl. Squash lalu disambut hangat oleh para kru EO Wildan & Friends dan langsung mempertemukan kami dengan kedua orang tua Aini yang telah menanti di depan pagar rumah. Sambil mengucapkan salam kepada keduanya, Mamah Ida, yang kala itu masih kupanggil dengan ‘Tante’, mengalungkan rangkaian bunga ke leher saya. Tak menanti lama, Ivan Belva selaku MC mempersilahkan kami semua untuk masuk ke dalam rumah bersama kedua orang tua beserta ua, om, tante, dan beberapa sanak saudara yang membawakan hantaran. Saya duduk di antara ayah dan mamah, memandang lurus ke arah keluarga besar Aini yang telah duduk manis menanti di hadapan saya. Sementara Aini tak nampak terlihat karena masih disembunyikan di dalam kamar dan tak akan mendampingi saya di saat Ijab Qobul.

Acara pun dibuka oleh sambutan dari perwakilan kedua belah pihak keluarga yang meningkatkan kecepatan denyut jantung karena seusainya saya pun dipersilahkan untuk duduk di kursi di mana saya akan menghadapi semuanya seorang diri dan hanya akan dikelilingi oleh qori, pembaca saritilawah, perwakilan KUA, pemberi dakwah, ayah Aini, dan tentunya orang-orang yang hadir di sana. Saya melangkah dan duduk dengan mantap sambil membaca doa dalam hati.

“Robbisrohli sodri, wa yassirli amri, wah lul uqdatan min lisani, yafqohu qouli..”

IMG_9335IMG_9184

IMG_9404

DSCF2710

DSCF2729

photo by: @nesnumoto

Sampai di tahap ini, saya masih sempat tidak percaya bahwa semua ini nyata. Waktu berlalu tak kenal lelah. Sepertinya baru kemarin saya meneriakkan tangisan pertama di dunia tepatnya di RS Limijati, berada di Playgroup Tadikapuri dan menangis tak mau naik panggung karena diikutsertakan mamah acara fashion show baju adat, ikut menari tarian dingding ba dingding di acara TK BPI, mengompol di celana saat TK karena tidak bisa membuka resleting sendiri, mendapat juara 1 mewarnai se- Bandung Raya di Taman Lalu Lintas, mendapat nilai 0 pada PR perkalian di kelas 2 SD, berantem dengan teman karena melempar dompetnya sehingga nyangkut di genteng sekolah saat kelas 3 SD, mengikuti aubade di balaikota saat kelas 5 SD, mengerjakan Ebtanas di ruang panitia karena bintitan, mulai mencintai musik dan belajar bermain gitar di kelas 2 SMP karena efek booming nya lagu Peterpan “Mimpi Yang Sempurna”, memberanikan diri main band bersama band yang hanya bisa memainkan 1 lagu: “The Mandorz” dengan lagu andalannya ‘Smoke on The Water’ (lagu yang tak lazim dimainkan anak seusia putih biru), lolos audisi band untuk tampil di Sabuga pada acara wisuda SMP (tentunya dengan The Mandorz dan membawakan lagu andalan), merasakan indahnya putih-abu SMA dan memiliki pacar pertama yang sekaligus jadi mantan pertama, gemar cabut dari sekolah untuk futsal saat guru tidak masuk mengajar di kelas 2 SMA, tampil di berbagai acara musik bersama Musik Klasik 3, bertemu dengan teman-teman yang luar biasa yang Insya Allah silaturahmi nya bertahan sampai tua, perjuangan belajar di kelas 3 SMA untuk lulus UN dan USM ITB dan sebagainya, diterima di Teknik Industri Unpar pada 2008 namun hiatus dan memutuskan berhenti di semester 2 untuk fokus belajar demi mengejar masuk ke ITB di tahun 2009, diterima di SBM ITB pada Agustus 2009, untuk pertama kalinya berkenalan dengan Aini di English First Banda namun tak ada kontak lanjutan setelah masa belajar 3 bulan berakhir, lulus S1 dengan segala ceritanya di 2013, diterima S2 di Agustus 2013, kembali menjalin kontak dengan Aini di akhir Desember 2013 (Thanks to Facebook and Line), internship di Fujifilm di bulan April 2015, mengumpulkan pundi pundi demi untuk membeli cincin dan melamar Aini secara private di Le Bridge Ancol di Juli 2015, melamar Aini dengan langsung datang ke orangtua nya di September 2015, lulus S2 di February 2016, hingga akhirnya: hari ini pun tiba.

17

DSCF2969“Saya terima nikah dan kawinnya Aini Nurul Iman binti Tedi Romyadi dengan maskawin seberat 11,3 gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai.”

Kalimat tersebut Alhamdulillah mengalir dengan lancar dari indera pengucapku dalam 1x kesempatan disusul dengan ucapan “Sah”. Beban yang sebelumnya dipikul oleh ayah mertua pun telah berpindah berada di pundakku, dapat dikatakan usai sudah kewajiban seorang ayah dalam merawat dan membesarkan anak putri satu-satunya, kini semua menjadi tanggung jawabku sebagai suami.

Aini pun dipersilahkan keluar dari kamar, dan menatap seseorang yang telah menjadi suami sahnya untuk pertama kalinya. Kudaratkan kecupan sayang di keningnya pertanda bahwa label halal sudah tersemat di antara kami berdua.
1819Acara mencapai puncaknya di acara sungkeman kepada kedua orang tua. Kami semua bergantian berpelukan, mengutarakan apa yang ingin diutarakan, mengucapkan apa yang belum sempat terucap selama ini. Saat berpelukan dengan ayah mertua, saya mendapatkan amanah “Titip anak ayah ya, marahi dia kalau tidak sholat..”. Singkat namun bermakna dalam. Bulu kudukku merinding saat mendengar kalimat tersebut dibisikkan di telinga kanan, seakan ada pesan yang ditancapkan ke dalam otak agar tidak pernah terlupakan.

20

21

Kebahagiaan dan kehangatan menyelimuti ruangan. Hari ini semesta, langit, dan seisinya menjadi saksi berlabuhnya cinta dua hamba Allah SWT kepada pilihan terbaiknya. Pilihan yang dibuat diatas pemikiran yang matang dan melalui proses yang tidak gampang. Di Ramadhan 1436 H, sebelum saya memutuskan bersilaturahmi ke rumah Aini untuk mengutarakan keinginan meminangnya saya telah lebih dahulu melaksanakan istikharah untuk mengambil keputusan besar ini. Entah benar atau tidak, setelah sholat saya bermimpi. Dalam mimpi tersebut saya berada di Jl. Squash dan sedang dalam perjalanan menuju gerbang rumah Aini. Namun seketika muncul ombak besar seperti tsunami yang menyapu saya menjauh dari rumahnya. Berkali-kali saya mencoba mendekat, saya kembali tersapu oleh gelombang ganas tersebut. Namun pada akhirnya, entah bagaimana caranya, saya tiba-tiba berhasil masuk dan berada di dalam rumah Aini. Seperti ada kekuatan yang menolong saya untuk menerobos masuk. Saya mengartikan mimpi tersebut sebagai sebuah tantangan kehidupan. Pertanda akan ada banyak ujian yang datang dalam pilihan ini, namun dengan kegigihan dan tanpa putus asa, Insya Allah tujuan yang diinginkan dapat tercapai. Saya pun mantap dengan pilihan saya, tak ada jalan mundur lagi, inilah saat yang tepat untuk menjauhkan diri dari dosa yang lebih besar lagi andai saya tidak memilih jalan ini.

Di penghujung hari, ramah tamah pun menjadi penutup yang indah bagi keseluruhan acara yang melelahkan, menguras emosi, namun sangat mendebarkan dan membahagiakan. Kami menyalami dan berfoto bersama dengan seluruh orang yang telah meluangkan waktu untuk datang, dan setelahnya beristirahat menyimpan dan memulihkan tenaga untuk menghadapi hari resepsi keesokan harinya, yang pastinya membutuhkan stamina prima untuk menjalaninya.

Kami terlelap, memejamkan mata, dalam rasa syukur yang erat dan dalam.

Bersambung ke: [Behind the scene] A&H Wedding – Resepsi (dalam proses tulis)

Handry

Advertisements