Tags

, , ,

Pulpen di tangan, mata menatap dosen, kantuk dikekang, botol kopi di atas meja, hening di seantero ruangan, pikiran di awang-awang, rutinitas kampus barangkali. Keadaan tersebut tak jarang saya temui dan rasakan beberapa bulan ke belakang, mungkin tak hanya saya sendiri. Himpitan tugas, deadline yang siap menerkam, oknum teman yang tidak kooperatif, angka-angka, slide presentasi, paper, case study, persiapan kompetisi bisnis, tak jarang wifi yang mengecewakan, ruangan sindikat yang penuh sesak, seolah tiada henti berputar dan kembali ke titik awal. Menjemukan terkadang.

Di epilog bulan September, kaprodi MBA ITB, Reza Ashari Nasution, Ph.D, menelurkan sebuah gagasan yang beliau sebar melalui milis civitas MBA ITB. “Saya memiliki ide membuat MBA Music Show, tapi masih miskin konsep. Siapapun yang memiliki konsep boleh menghubungi saya” begitu kurang lebih beliau berucap. Melihat ada daya pikat dari ide beliau, terbayang sebuah event yang berpeluang menjadi pelepas dahaga mahasiswa selepas UAS nanti, maka saya berceletuk ringan “Bagaimana kalau namanya MBAcoustic pak?”. Singkat cerita, celetukan ringan tersebut menjadi trigger yang membuat semakin banyak orang merespon ide Pak Reza. Dengan inisiatifnya, beliau memanggil ke tiga belas orang yang merespon untuk menggodok konsep seperti apa yang tepat disematkan dan ditampilkan kepada publik.

Pada pertemuan pertama yang beliau jadwalkan, saya berhalangan hadir. Menurut informasi teman saya yang datang, meeting perdana tersebut belum membuahkan hasil apapun. PR terbesarnya adalah menemukan nama yang tepat, singkat, padat, tidak murahan, mudah diingat, dan iconic, dengan benchmark nama “Oddisey” milik SBM ITB. Pak Reza tidak menghendaki nama panjang dan terkesan standar dan mainstream yang berbau ‘The’ atau ‘Night’, apalagi yang norak….semacam D’Terong Show, dangdutan milik salah satu stasiun swasta. Mendengar hal tersebut saya mulai berpikir mengenai beberapa alternatif nama yang rencananya akan diajukan dalam meeting lanjutan. Namun, setelah beberapa hari bertapa, nama tersebut belum kunjung terbersit. Pada akhirnya, WC rumah, di saat setor pagi, menjadi saksi bisu lahirnya nama yang Insha Allah melegenda ini. Aneh memang, selalu seperti itu.

Tibalah hari rapat kedua dengan agenda penetapan nama dan penyusunan panitia inti. Hari itu segelintir saja yang datang dari 13 orang yang merespon saat itu. Hanya saya, teman sekelas saya di YP 50B, Dyta Andhina, Duo angkatan 51, Krisna Aditya dan Aditya Aisar, Christi dari angkatan 48, dan Riantyas Yunelza (Ririn) dari 51. Agenda pertama penetapan nama berlangsung aklamasi dan mutlak. Hanya saya yang memiliki usulan nama, di samping memang pak Reza nampak puas dengan nama beserta definisi juga filosofinya. Here, “CADENZA“.

Cadenza dalam arti harfiah merupakan suatu part yang diperuntukkan untuk pemain musik unjuk kemampuan menampilkan permainan solo. Sementara Cadenza untuk event ini merupakan singkatan dari ‘Creative Academician Day Embellish the Night with Extravaganza‘ yang berarti hari kreatif untuk para akademisi (MBA ITB) yang menyemarakkan malam dengan pertunjukkan yang luar biasa. Kurang lebih begitulah filosofi dan definisi dibalik pemilihan nama tersebut.

 Acara sendiri rencananya akan dihelat seusai UAS sekira pertengahan November, karena momentumnya dirasa tepat. Menyudahi hari, Pak Reza menunjuk Aditya Aisar alias Boyo (Tepat. Asli Suroboyo) sebagai ketua acara, Krisna Aditya alias Krisna sebagai wakil ketua, Dyta sebagai koordinator divisi acara, lalu Christi dan Ririn sebagai tim acara. Saya sendiri, dikarenakan kesibukan mempersiapkan presentasi kompetisi bisnis yang dihadapi pada 3-4 November (baca: https://handrymar.wordpress.com/category/the-5th-ppm-regional-business-case-competition-bca-case/) hanya menyanggupi sebagai koordinator divisi publikasi dan dokumentasi.

        Sebagai antisipasi deadline yang hanya kurang dari dua bulan, kami bergerak cepat dengan step pertama membuka pendaftaran untuk mengisi pos-pos penting yang masih belum terisi. Karena berhubungan dengan dokumentasi, dan ada kebutuhan visual untuk poster pendaftaran, maka diputuskan merekrut illustrator yang saya pilih sendiri. Pilihan jatuh pada Fadhila Arimurti dari MBA CCE 51. Selain memang Dhila adalah adik kelas saya saat SMA, saya pun sudah mengenali hasil karyanya yang acapkali ia unggah di instagram pribadi miliknya, maka saya tak perlua khawatir akan hasilnya (@pepperzee).

Segera setelah ditunjuk, saya melayangkan request pada Dhila untuk mendesain logo Cadenza, serta poster pendaftaran kru event. Poster tersebut saya arahkan untuk berisikan visualisasi logo, visualisasi crew, visualisasi orang yang lagi ngeband yang merepresentasikan talents, dan tentunya informasi mengenai pendaftaran beserta caranya. Hasilnya? Beyond my expectations.

logo-cdzwhite

Logo awal Cadenza by: Fadhila Arimurti (@pepperzee)

Cadenza Poster

Dan? Cerita, terus bergulir…

(to be continue: https://handrymar.wordpress.com/2015/03/30/cadenza-live-audition-2/)

Advertisements