Tags

, , , , , , , , , ,

Dengan berbagai persiapan yang telah dilakukan, (baca kembali:

The Business Case Competition Experience: PREPARATION (5),

The Business Case Competition Experience: INTRODUCTION VIDEO (4))

  kami pun telah siap menatap hari H. Senin 3 November 2014, langkah pertama kami ditempuh dari stasiun Bandung. Udara beku di perawalan subuh, yang belum disapa oleh matahari, mungkin tak lagi terasa. Bawaan kami lumayan berat, terutama saya sendiri yang memanggul tas gunung berwarna orange-abu berisikan laptop, seragam tim, peralatan mandi, charger laptop, terminal listrik, jas (tidak patut ditiru, yakali jas dilipet), obat-obatan darurat, baju santai, dkk. Ditambah lagi tangan kanan saya penuh oleh tas kecil berisikan pantofel, dan tangan kiri yang menggotong hard case hitam besar berisikan gitar kesayangan, si Faith. Seperti pemain sirkus? Tepatnya sih kuli panggul.

Berangkatlah kami tepat pada pukul 05.05 WIB menggunakan kereta api Argo Parahyangan menuju stasiun Gambir.

20141103045246

08.10 a.m. Kereta tiba, kami disambut oleh Prasastia Dessy Safrina a.k.a Tia, panitia dari PPM School of Management, yang akan menjadi LO tim sepanjang event ini digelar. Dari Gambir, kami dibawa melintasi ibukota dengan mengendarai mobil panitia untuk mencapai destinasi awal: Gedung Halo BCA, Serpong. Sepanjang perjalanan kami saling bertukar pikiran mengenai pola belajar di masing-masing Universitas, tak jarang celetukan-celetukan humor mencairkan suasana perjalanan yang mengharuskan kami menatap jendela mobil selama satu setengah jam.

Setibanya di Halo BCA, kami menerima sambutan yang begitu hangat. Karyawan-karyawan berjejer layaknya pager bagus dan pager ayu, menyalami kami satu per satu dengan senyuman dan ucapan selamat datang yang tidak nampak kaku, seolah ingin melekatkan bahwa BCA memiliki suasana internal yang bersahabat, enerjik, muda, penuh semangat, membaur, dan menyenangkan, tidak seperti apa yang dituliskan pada kasus: Membosankan. Bahkan terdapat area photobooth yang layaknya studio foto, disediakan berbagai aksesoris sebagai pemanis, dan juga maskot Halo BCA di kanan kiri. First Impression: Fun!

20141103100513

Di Halo BCA ini kami disuguhi penampilan dari para karyawan BCA di bidang musik (vocal group) dan juga modern dance, yang lagi-lagi, secara tersirat, ingin menegaskan mengenai kondisi internal BCA terkini yang dipenuhi good talent dan tidak kaku. Kurang lebih 3 jam kami berada di sini, dengan santapan siang serta coffee break yang mengenyangkan (ada nasi hijau dengan pewarna alami dari daun suji), sekira pukul 2 sore kami diantar dengan bus menuju tempat peristirahatan kami, Amaris Hotel di bilangan Thamrin. Setibanya di hotel, kami tak dapat bersantai, dengan hanya memiliki waktu satu jam untuk mandi, sholat, berganti pakaian dengan pakaian tradisional sesuai dress code malam ini, kami pun bersiap berangkat menuju PPM. Malam pertama ini adalah malam penyambutan sekaligus malam unjuk bakat bagi kedua belas finalis yang hadir dari berbagai daerah dan negara. Salah satu yang paling bersahabat adalah teman kami dari Filipina, dengan aksen Inggris yang kespanyol-spanyolan (pengucapan ‘Nation‘ yang semestinya ‘Nesyen’ diucapkan oleh mereka dengan ‘Nesyong’ dst.) mereka kerap bersenda gurau dengan kami kala berjumpa. Bahkan menyempatkan untuk berfoto selfie bersama. Ya, budaya selfie ternyata benar-benar seperti virus SARS pada masanya, dan Ebola di masa kini. Waspada. Mewabah.

1415008835129

Pribados sareng Filipinos jeung Thailanos (baju putih dan hitam)

Kami yang memutuskan untuk mengenakan batik merah-coklat, dilengkapi oleh iket sunda yang melingkar di kepala, mendapatkan giliran tampil ke 5 di panggung pertama ini, sebelum esok menaiki panggung utama untuk mempresentasikan hasil paper yang berhasil membawa kami kemari. Dengan formasi saya bermain gitar dan bernyanyi, Insan menabuh Jimbe, dan Angga membaca puisi kami pun naik ke atas panggung tanpa dagdigdug sama sekali. Lagu “Bagimu Negeri” kami pilih untuk ditampilkan, diselipi dengan membacakan puisi yang kami tulis sendiri. Lagu ini benar-benar ampuh menarik mayoritas massa untuk bernyanyi bersama karena memang mereka sudah sangat hapal tentunya. Sayangnya, nilai kami menjadi kurang maksimal karena, menurut juri, penggunaan bahasa Indonesia pada puisi kami membuat tak seluruh peserta dapat memahami apa yang terkandung di dalamnya, seingat saya kami mendapatkan nilai 80 80 70 dari 3 juri.

IMG_5684

“Bagimu Negeri”

At the end, Filipina berhasil menyabet gelar juara di malam penyambutan ini karena mengumpulkan skor akumulatif tertinggi dari 3 juri. Mereka menampilkan tarian tradisional khas Filipina yang sekilas nampak seperti tari lilin sebenarnya. Penilaian saya di fase ini, peserta dari luar negeri memiliki niat lebih dalam mempersiapkan penampilan untuk team performance ini sekaligus menjadi duta yang memperkenalkan budaya khas tanah kelahiran mereka. Thailand menampilkan adegan dan jurus-jurus thai boxing, tim Filipina satu lagi pun menawarkan tarian namun berbeda konsep, hanya tim dari China yang menurut saya tampil apa adanya dengan menari konyol bermodalkan pede, menggunakan kacamata hitam khas mafia Hongkong, dan berlatarkan musik pengiring yang mereka bawa sendiri, tapi toh tetap saja nilainya besar. Aneh? Tidak juga. Penampilan dari para finalis Indonesia lainnya pun tak kalah bagus, namun nampak intinya bukan kerapihan yang menjadi bobot terbesar di mata juri namun seberapa menghibur apa yang ditampilkan, karena memang malam ini adalah malam yang ditujukan untuk meleburkan peserta, dan membawa suasana riang, hangat dan bersahabat.

IMG_5643

Dancing From Fudan University

IMG_5731

Thai-boxing by Chulalongkorn University

IMG_5903

Traditional dancing by University of the Phillipines Los Banos

IMG_5818

Traditional dancing by University of the Phillipines Baguio

photo captured by: Regional Business Case Competition (RBCC)’s committee

  Handry

Advertisements