Tags

, , , , , , ,

Cukup banyak cerita selama kurang lebih 20 hari bermain bersama kasus BCA ini. Kebanyakan didominasi dengan hal-hal fun dan loba dieusi ku seseurian, dikarenakan kami bertiga dalam EMBRIO ini memang doyan hereuy kalau kata bahasa sunda. Dari mulai numpang eksis di gedung baru MBA ITB, menemukan ide saat makan nasi goreng, FGD, menyambangi tebing karaton yang sedang hits di kalangan anak muda Bandung, secara rutin check in berjamaah di path dengan maksud psy war untuk membuat jiper kelompok lain yang mengikuti kompetisi, road to jakpus untuk berkonsultasi dengan salah satu dosen MBA ITB, Ibu Dra. Krisnati Desiana Lic. Comm (Ibu Anna), yang juga merangkap sebagai General Marketing Manager di PT. Wiraswasta Gemilang Indonesia (WGI), dengan produk kenamaannya yaitu Evalube (bukan iklan berbayar by the way :p), sampai lembur di dua hari terakhir di rumah Insan di bilangan Margahayu Raya. Terkesan deadline-ers karena kami baru mengumpulkan report di menit menit akhir batas pengumpulan, tapi alhamdulillah kami cukup puas dengan effort yang sudah kami keluarkan demi kelancaran dan hasil akhir yang (Insha Allah) maksimal.

1407318250374

@ Sindikat 1 – Coretan awal

top

@ Roof Top Gedung Pertamina – MBA Business Research Center

IMG_20140815_120524

@ Tebing Karaton

 

2014815093220

Kursi kayu panjang mendadak ngagubrak saat sedang bersantai menyantap gorengan, kopi, susu di Warung Bandrek. Alhamdulillah, teu bahe

Pathbrio

A different soundtrack everyday

Dari semua pengalaman yang kami dapatkan, buat saya pribadi hal yang paling berkesan adalah saat sharing session bersama ibu Anna. Kami saat itu, 22 Agustus 2014, berangkat ke ibukota jam 11 siang dengan menggunakan mobil milik Angga, dengan perhitungan bahwa dengan menggunakan mobil pribadi akan lebih menghemat pengeluaran kami dibandingkan menggunakan jasa travel. Tiba di Jakpus sekitar pukul setengah dua, kami sempat mengademkan diri dulu di Grand Indonesia, menunggu jam 3 sesuai appoinment yang telah kami bicarakan sebelumnya dengan bu Anna. Tepat pukul 3 kami mendatangi PT.WGI di gedung The City Tower – ICBC. Kami bertiga dipersilahkan untuk duduk, dan mempresentasikan bahan-bahan yang kami bawa, di ruangan rapat yang cukup luas. Sejujurnya, kami datang dengan hanya membawa konsep mentah dari apa yang ingin kami jadikan solusi permasalahan dari BCA. Namun atas dasar itulah kami bertemu dengan orang yang tepat: praktisi lapangan. Dengan tegas dan gamblang bu Anna mengatakan bahwa konsep yang kami tawarkan tak menjadi masalah, marketing tools itu beraneka ragam, apapun dapat menjadi sebuah cara, namun beliau menggarisbawahi hal-hal berikut:

“Apa pesan inti yang ingin disampaikan dari semua ini kepada target market? Tanpa kejelasan pesan, sebagus apapun penyajian marketing tools akan menjadi sia-sia karena target market tak akan benar-benar menangkap apa yang dimaksud oleh brand tersebut. So, pertama-tama yang harus dilakukan adalah lihat recent condition dari brand, seperti apa imej yang ingin disampaikan ke publik dsb., kedua adalah cari tahu seperti apa persepsi publik terhadap brand, apakah sejalan ataukah malah berbeda. Jika berbeda, maka disitulah letak gap yang harus diperbaiki demi mencapai goals yang ingin dituju ke depannya. Ketiga, tetapkan pesan inti apa saja yang harus disampaikan kepada publik agar mampu mereduksi gap yang ada. Keempat, tentukan marketing tools apa yang paling cocok dan efektif untuk menyampaikan pesan pesan tersebut kepada target market.”

Kami bertiga mengiyakan pernyataan beliau tersebut karena memang merasa bahwa konsep solusi yang kami bawa memang masih memiliki banyak kelemahan disana sini seperti: belum terlalu solutif, terutama belum ada kejelasan pesan, belum ada landasan teori yang komprehensif, dan belum mampu disampaikan secara terstruktur. Pembicaraan tak berhenti di topik business case, namun banyak hal yang diceritakan oleh ibu Anna, semisal saya sempat bertanya mengenai pemilihan Persib sebagai media promosi dari Evalube, beliau menjawab bahwa pemilihan Persib itu adalah salah satu contoh dari keberhasilan sebuah brand engagement, buktinya banyak orang pertama kali mengetahui Evalube karena Persib. Namun statement yang menarik adalah keputusan bu Anna untuk tak berlama-lama menjalin kerjasama dengan Persib, karena ia tidak ingin Evalube dikenal sebagai oli nya Persib, atau terlalu identik dengan entitas tertentu. Brand ini harus dapat diterima semua kalangan, sehingga ia memutuskan untuk berpindah mensponsori klub asal Palembang, Sriwijaya FC.

Seusai berbincang, kami bertiga sempat berceletuk, “Ga menang lomba ini juga woles sih, yang penting udah dapat pengalaman sharing sama bu Anna ini juga berharga. Dapet banyak insight dari praktisi langsung.” Sayangnya kami tidak berkesempatan mengabadikan momen bersama beliau.

Moldiv_1408703335871

@ PT. WGI

Sebenarnya sih tidak juga. Di hati terdalam kami juga pasti menyimpan harapan bahwa apa yang kami kerjakan beberapa saat yang lalu ini mampu minimal bersaing dengan kompetitor lain dan menjadi finalis. Tapi apapun hasilnya, saya bersyukur mendapatkan pengalaman menyenangkan dan penuh ilmu ini.

1111

Ilustrasi solusi

Handry (@handrymar)

1/9/14

Advertisements