Tags

, , , , , , , ,

Kampung Inggris. Nama itulah yang pertama kali menjadi magnet kuat sehingga saya tak berpikir panjang untuk menempuh perjalanan darat selama kurang lebih 13 jam menunggangi kereta ekonomi. Memang tidak membawa niat untuk belajar sama sekali. 4 hari yang dihabiskan dari tanggal 23 sampai 26 Mei yang lalu hanya bertujuan menjenguk Aini yang mengambil beberapa course di salah satu lembaga kursus di sana, Global English.

Nyaris 6 tahun silam, saat terakhir kali saya berwisata menggunakan kereta api bersama geng SMA menyusuri D.I Yogyakarta, kala itu kereta ekonomi begitu penuh sesak dengan pedagang asongan, mulai dari yang konvensional seperti mie seduh, kopi, rokok, sampai yang paling tidak masuk akal, pedagang casing HP. Jauh berbeda dengan kereta ekonomi yang membawa saya pergi kali ini, ataukah kereta ekonomi ini memang berada setingkat di atas kereta ekonomi Kahuripan yang membawa saya ke Yogyakarta saat itu.

Selama di perjalanan saya bertemu dengan beberapa orang, kami pun saling bertukar pikiran. Ada seorang bapak berkumis yang akan pergi ke Malang untuk mengikuti pertemuan pengurus Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI) se-Nusantara. Seperti pada umumnya, warga Sunda memang terkenal dengan keramahtamahannya. Sepanjang 13 jam waktu tempuh obrolan ringan menemani kepenatan dalam menanti ketibaan kami di tujuan masing-masing. Tentunya tema ‘Persib’ menjadi paling mudah untuk mencairkan suasana. Malam harinya, berbekal selimut yang saya jinjing di kantong keresek, walaupun sulit untuk tidur saya coba untuk tidur. Untungnya bapak di sebelah saya lebih dahulu turun sehingga saya bisa merebahkan badan seraya menaikkan kaki ke atas kusen jendela kereta. Kereta pun mendecitkan remnya di Stasiun Kediri pada pukul 4 subuh. Hari itu tanggal 23 Mei 2014.

mtf_WgqOy_1748

Try to sleep

Setibanya di stasiun, saya sempatkan untuk sholat shubuh di mushola lalu setelahnya menuju depan Kantor Pos Indonesia dengan menyewa becak yang sudah siaga di halaman parkir stasiun. Dari sini rute akan diteruskan menuju daerah Pare di Kabupaten Kediri menggunakan angkot bertuliskan ‘P’. Yang menjadi masalah di pagi buta seperti ini kesabaran kita menunggu angkot yang lewat benar-benar diuji. Kurang lebih 20 menit saya lalui hanya untuk memandangi lalu lalang bus, mobil, motor, namun angkot yang dimaksud belum kunjung tiba. Baru setelah satu angkot tiba sayapun dapat bernapas lega. Sepanjang perjalanan saya mengamati kekhasan daerah ini yaitu persawahan yang masih begitu mudah ditemui. Dari mulai padi, hingga yang paling dominan yaitu jagung terhampar hijau di kiri dan kanan bahu jalan. Tepat pukul 06.30 gapura Desa Tulungrejo, desa yang terkenal dengan sebutan Kampung Inggris, berdiri dengan kokoh. Sampai

2014523060751

Desa Tulungrejo a.k.a Kampung Inggris

Saya turun tepat di depan Global English. Menanti beberapa saat sebelum Aini keluar dari sesi pertama les dia tiap pagi yaitu sesi work interview. Setelahnya, Aini mengantar saya ke tempat kos untuk 4 hari ke depan. Tempat kos saya adalah sebuah rumah warga di Jl. Anyelir, di sana saya bertemu seorang nenek yang nyatanya adalah pemilik tempat tersebut, Bu Eko namanya. Walaupun sudah agak bungkuk, rambut penuh uban, dan kacamata plus yang menggantung, tapi pembawaannya begitu tegas. Saat pertama kali berkenalan, ia menjelaskan secara gamblang apa saja peraturan yang harus ditaati di area kosan. Air keran harus dinyalakan saat mandi, jika tidak dipakai dimatikan, tidak diperkenankan bermain gitar di teras rumah, beri informasi apabila ingin pergi jauh dst. Sekilas terkesan galak tapi setelah beberapa kali saya mengobrol ternyata beliau tipikal orang yang mudah akrab. Jika sudah begitu ia bisa begitu terbuka menceritakan berbagai hal termasuk cerita mengenai dirinya, keluarga, bahkan anaknya.

“Kosan ini milik anak saya. Dia sangat menyukai fisika, liat kan? Tiap kamar punya nama masing-masing yang diambil dari istilah fisika. Ia ingin agar saya punya penghasilan di masa tua saya ini.” ucap Bu Eko.

Memang, hal yang paling menyita perhatian saya setibanya di kosan ini adalah kekhasan tiap kamarnya yang memiliki nama. Tidak didesain bagus dan rapi sih, isi kamarnya pun tidak bertemakan fisika, hanya kasur tingkat dua sebanyak dua buah untuk 4 orang, tapi ini unik dan kreatif.

Kosan

Physical name. Rp.75.000 untuk 4 hari

 Namun hal yang begitu membekas di pikiran saya adalah saat Bu Eko bercerita seperti ini,

“Saya kan udah tua, tapi jangan salah lho ya, masih banyak yang suka sama saya. Pernah ada yang dateng ke sini lalu menawarkan untuk menikah dengan iming-iming harta. Saya bilang TIDAK! Anda jangan seenaknya ya, saya juga punya harga diri. Saya sudah berjanji sehidup semati dengan almarhum suami saya. Tolong Anda pergi!”

Mungkin untuk yang membaca tulisan ini, perkataan Bu Eko terdengar dibuat-buat dan direkayasa, tapi yakinlah, saya mendengar dengan mata kepala sendiri apa yang beliau omongkan. Saya terkagum-kagum dan larut dengan banyak pengalaman yang ia ceritakan dengan penuh penghayatan, dan berpikir bisakah saya seperti beliau untuk sehidup semati dengan pasangan saya kelak. Saya hanya bisa mengamininya dengan keras di dalam hati.

Sampai di sini, saya tak ingin panjang lebar untuk bercerita. Biarlah foto-foto di bawah ini menceritakan apa yang tak dapat saya lukiskan dengan kata-kata.

2014523070732-1Berfoto di depan banner Kampung Inggris, setibanya di Pare. Terlihat raut kelelahan yang begitu jelas di wajah bukan?

mtf_WgqOy_1785Bersepeda di sore hari, mengitari Tulungrejo. Ini hari pertama (23 Mei 2014), bayangkan harga sewa sepeda di sana sangat sangat murah. Rp.17.000 untuk 4 hari.

DSC05185-1 copy

Hari kedua. Mengunjungi Monumen Simpang Lima Gumul. Ciri khas Kediri yang mempertemukan 5 jalan untuk menuju daerah yang berbeda. Dari Tulungrejo ke sini membutuhkan waktu 30 menit menggunakan motor. Saat akan berangkat, semua motor di penyewaan motor sudah booked, untungnya bapak pemilik kos seberang Global English, tempat dimana Aini kos, berbaik hari menyewakan motornya dengan tarif Rp.10.000/jam.

2014524183133

Kopi Joss dulu di angkringan sekitar kosan. Pada malam hari, Tulungrejo masih tetap ramai. Beberapa tempat kursus mengadakan open public speaking yang ditonton oleh khalayak ramai untuk mengasah mental para siswanya. Suasana adem begitu terasa di malam hari, jauh berbeda dibandingkan siang hari yang begitu menyengat dan lembab.

mtf_WgqOy_18382014525065141 copy

Minggu pagi di Taman Kilisuci. Taman yang tertata rapih, diperuntukkan untuk warganya agar dapat menikmati keindahan bunga-bunga, sekedar merilekskan pikiran dengan berjalan di atas batu refleksi, ataupun menyantap makanan yang dijajakan oleh pedagang keliling.

2014523151727 copy

2014524112551 copy

Santapan yang WAJIB dicoba untuk siapapun yang mengunjungi Kampung Inggris. Ketan Susu Bubuk. Cukup merogoh Rp.2500 seporsinya, mantap dipadukan dengan susu coklat dingin atau hangat. Bisa ditemukan di Desa Tulungrejo Kampung Inggris dekat lapangan bola di daerah belakang.

2014525200819 copy

2014525202051 copy

Minggu malam, sebelum keesokannya pulang, menyempatkan membeli oleh-oleh di Pareholic. Cukup murah. Rp.3000-4000/keping gantungan kunci.

2014526085136

Asmo John Fitness. Satu-satunya bisnis di Desa Tulungrejo, Kampung Inggris, yang tidak memiliki kompetitor sama sekali. Monopolistic

2014526074642 copy

Anyelir dan Wakapo, Warung Kampung Pojok. Tempat saya sarapan setiap hari dengan harga yang tak membuat isi kantong menjerit.

mtf_WgqOy_1848

Tak hanya murah, tapi manis dan segaar!

2014526111509 copy

Makan siang terakhir sebelum kembali pulang. Nasi Ayam Penyet Ibu Tin. Murah, nikmat, kenyang. Bahagia itu sederhana.

2014526135638 copy

Bersama Ivan dan Melky sebelum berangkat ke Stasiun Kediri. Teman-teman sekamar selama 4 hari ini. Ivan asli Kediri, dan Melky dari Balikpapan. Ivan Sang senior di sini karena sudah 9 bulan menetap. Seru saat nonbar Final Liga Champions.

Sayang sekali saat ingin mengabadikan foto dengan Bu Eko, ternyata Bu Eko sedang pergi menemui anaknya di Surabaya. Saya pun pulang kembali ke Bandung dengan kepala ringan, banyak pengalaman menyenangkan, dan yang pasti saya akan merindukan tempat ini, yang berserakan kuliner murah dimana-mana, keramahan penduduknya, suasana pedesaan yang sederhana yang membuat diri kembali memijak bumi, memaknai dan mensyukuri hidup karena melihat perjuangan luar biasa orang-orang di sini menggerakkan roda ekonomi yang ditopang oleh kehadiran banyak tempat kursus Bahasa Inggris. Kehadiran tempat kursus yang begitu menjamur di sini, yang menyedot banyak wisatawan untuk datang, begitu vital adanya sehingga menumbuhkan banyak peluang usaha lain semacam binatu, penyewaan sepeda, kos-kosan muslimah, kos-kosan pria, kos-kosan khusus suami-istri, tempat souvenir, rumah makan, fitness centre, travel agent, jasa ojek, rental PS, rental motor, rental mobil, jasa becak motor, minimarket, kursus komputer, kafe dll. Bisa terbayangkan betapa tempat kursus di sini mendapatkan aliran doa dari seluruh warganya untuk tetap mampu bertahan, karena dari sanalah mereka menggantungkan sebagian hidup mereka.

Semoga melegenda selamanya, Kampung Inggris!

Advertisements