Tags

, , , , ,

Kali pertama saya menemui hal-hal mengenai event bernama Navigacity 2014 ini adalah dari posting salah satu teman saya, Zarisya Vianadia, di situs jejaring sosial Path miliknya. Berbuah rasa kepenasaran, saya pun banyak bertanya padanya seperti apakah detil acara tersebut, sampai sharing pengalaman saat dia mengikuti acara serupa 2 tahun lalu.

Singkatnya, Navigacity adalah suatu sub-acara yang diadakan oleh para mahasiswa Geodesi dan merupakan bagian dari serangkaian acara utama bernama Geopoint 2014. Sesuai dengan namanya yang merupakan gabungan dari dua suku kata, Navigation dan City, Navigacity menuntut para pesertanya untuk berlomba mendatangi suatu tempat di kota Bandung, dengan bermodalkan peta dan clue berupa koordinat yang diberikan oleh panitia melalui pesan pendek setiap 1 jam sekali, lalu menyelesaikan beberapa challenge yang telah disiapkan di tempat tersebut. Grup yang memiliki raihan poin terbanyak dari 6 titik tempat tentunya berhak untuk berdiri di podium pertama.

Tujuan utama penyelenggaraan perlombaan yang mengadopsi permainan “Amazing Race” ini adalah memperkenalkan alternatif tempat rekreasi yang tersebar di kota Bandung sembari mengaplikasikan ilmu praktis dari Geodesi dan Geomatika dalam kehidupan sehari-hari. Hadiah utama menggiurkan sebesar 5 juta pun saya yakini menjadi daya tarik yang cukup kuat untuk menyedot atensi para peserta sehingga terbangunlah sebuah atmosfer persaingan kompetitif yang memacu adrenalin, memeras keringat, hingga meledakkan emosi (ini serius. Macet, walaupun tak ada si Komo, menjadi trigger nomor satu untuk hal ini). Dengan biaya pendaftaran sebesar Rp.35.000/orang, dengan batasan 2-5/kelompok, saya berinisiatif mengajak Aini Nurul Iman, yang tak lain tak bukan adalah pacar saya sendiri. Untuk meningkatkan semangat, dan antusiasme kami berdua, saya sedikit berkelakar, “Ay, kalo menang kan lumayan 5 juta, kita tabung bisa buat modal nanti. Terus gimana kalo nama tim kita Soto Koya. Sip Oke Top Kompak Yes Ah” Pecahlah malam itu dalam tawa.

DDD Beberapa hal kami persiapkan sebelum bertarung di hari-H. Kami kumpulkan banyak informasi dari pengalaman orang-orang yang mengikuti acara ini 2 tahun silam, banyak di antara mereka yang menuangkan pengalamannya ke dalam blog pribadi sehingga memudahkan kami untuk membayangkan seperti apa suasana yang akan dihadapi di lapangan. Tak lupa kami mempelajari video tutorial yang disediakan oleh panitia mengenai cara membaca serta mengalkulasi koordinat pada peta. Dari video tersebut saya berpikir untuk membuat kalkulator sederhana menggunakan excel guna mempersingkat proses perhitungan koordinat. Untuk mengantisipasi kelelahan, menyiapkan beberapa makanan dan minuman kecil untuk menemani perjalanan tak luput dalam to-do list persiapan kami. Semua perlengkapan checked, hari-H pun tiba.

Sabtu, 26 April 2014

Berangkat dari rumah pukul 6 kurang menuju rumah Aini di Arcamanik, sedikit blunder yang saya lakukan adalah membiarkan perut tak mendapatkan jatah sarapan pagi sehingga begitu terkena AC mobil membuat perut seketika terasa mual. Don’t try this, lads. Formasi hari ini adalah Aini berada di balik kemudi sementara saya yang memangku laptop, peta, GPS pada tablet akan berperan sebagai navigator. Kompak menggunakan pakaian belang hitam-merah, kami tiba di Monumen Perjuangan, Dipati Ukur, pada pukul 7 lebih untuk melakukan registrasi ulang. Satu map bening yang berisikan peta, stiker yang harus ditempel di mobil, pulpen, pensil, penggaris dan kertas arahan menjadi bekal yang disediakan oleh para panitia. Dengan udara yang masih segar, matahari yang cerah, kami siap memulai perjalanan.

2014426073510

Bersama maskot Geopoint 2014. Ready to go!

DSC05022

Kelompok A2

1

Patch the sticker.

Setelah selesai melakukan registrasi ulang, agar tidak panik begitu mendapatkan SMS, maka kami pun segera keluar dari area parkir Monumen yang padat. Kami pun rehat sejenak di Jalan Ganesha untuk menanti SMS pertama.

1st checkpoint: 783348 – 9239778

Tepat pukul 07.55 sms pun masuk ke nomor saya. Sms tersebut mencantumkan clue koordinat X= 783348, Y=9239778. Setelah melakukan kalkulasi dan plotting pada peta, koordinat tersebut mengarah ke daerah Sarijadi dan Setraduta. Sambil mengarahkan mobil ke daerah atas sana, kami berpikir tempat wisata apakah yang di sana. Kami sempat mendatangi Bandung Carnival Land, namun bukan itu, karena tempat tersebut ternyata masih begitu jauh dari titik yang ditunjukkan pada peta. Mbah Gugel pada akhirnya menjadi bak dewa di saat seperti ini. Saya mencoba mencari tempat wisata dengan kata kunci ‘Wisata alam Sarijadi Bandung’. Maka keluarlah satu nama, Curug Aleh, yang baru pertama kali kami dengar sejauh nafas berhembus hingga saat ini.

Mobil Ertiga yang kami gunakan dipacu melewati terusan Sutami, hingga menapaki Jalan Perintis. Beberapa orang yang kami temui menunjukkan arah yang berbeda untuk dapat sampai di tempat yang kami maksud sehingga tak pelak sedikit menimbulkan rasa frustrasi dikarenakan waktu yang terus berlari semakin menyempitkan jaraknya (lebih dari 08.55 tidak akan mendapat kesempatan bermain dan mendapat poin). Pada akhirnya kami mampu menggapai pintu masuk curug tersebut dan di sana telah menanti seorang panitia yang berkata bahwa masuklah lewat pintu atas. Berputarlah kami kembali ke atas, melewati perumahan Setraduta, dan ternyata tempat yang sebenar-benarnya dimaksud oleh koordinat adalah NuArt Sculpture Park milik seniman I Nyoman Nuarta. Tempat yang sangat indah. Areal outdoor ini dihiasi oleh patung-patung karya beliau, begitu sejuk karena terletak di daerah Bandung Utara.

Dengan segera kami memarkir mobil dan mendatangi panitia yang bertugas di sana. Game yang harus dihadapi untuk pertama kali adalah salah satu di antara kami berdua harus menirukan pose patung yang telah ditentukan oleh panitia, sementara seorang lagi mencari patung yang sesuai dengan pose lalu mengambil jawaban yang tersimpan di sekitar patung dan menuliskannya di lembar jawaban. Sesuai kesepakatan, pada permainan ini Aini lah yang menirukan pose patung. Aini menaikkan tangan kanannya ke atas, saya memperhatikan sekilas gestur tersebut layaknya seorang penari. Pada akhirnya saya menuju ke satu patung yang cukup mirip dengan apa yang diperagakan, dan di sana terdapat kertas bertuliskan penari dangdut. Setelah menuliskan dan mengumpulkan lembar jawaban, saya bertanya pada Aini mengenai kebenaran jawaban dari pose tadi. Ternyata bukan itu patung yang dimaksud. Patung yang dimaksud terdapat di area depan NuArt, patung seorang peri yang sedang merentangkan sayapnya. Tak sedikit argumen yang saya lontarkan karena Aini keliru menirukan pose. Ia mengangkat tangan kanannya sementara pada patung, peri tersebut mengangkat tangan kirinya. But, let it beAt least ada perjuangan tak kenal menyerah sampai akhirnya menemukan tempat ini.

dd

Dan….inilah patung yang dimaksud

Beautiful place to refreshing our mind

.. continue to Another way of Satur-date: Navigacity 2014 (2) – “Foto keluarga dan pencarian cangkul sakti”

 

Advertisements