Tags

, ,

Hey. Agak sedikit berdebu nampaknya, blog ini ditinggal Sang empunya selama 5 bulan lebih. Posting terakhir tentang internship pun masih menggantung di hari kedua (entah kapan akan berlanjut). Tidak terasa bahkan perkuliahan tahap post-grad pun sudah sampai di tahap menjelang final exam semester 1. Banyak cerita menarik terutama di fase matrikulasi atau masa pengenalan studi di awal Januari.

Neuro Linguistic Program atau NLP. Ya, pada awalnya istilah tersebut sedikit asing terdengar sebelum pada akhirnya berinteraksi di dalamnya. Pada intinya, pada 2 hari penyelenggaraannya, mahasiswa baru MBA ITB dituntut berkontribusi dan terlibat dalam seluruh kegiatan baik di dalam grup maupun interaksi secara lebih luas dengan tujuan memecah kekakuan antar mahasiswa baru dan juga menggali potensi kepemimpinan masing-masing individu.

7 Januari 2014

Di hari pertama, begitu pada pagi hari (kurang lebih sekitar pukul 6) berkumpul di area sekitar aula barat ITB, saya secara sepihak ditunjuk menjadi ketua kelompok (seingat saya Alex yang tiba-tiba ‘semena-mena’ menunjuk saya haha). Berformasikan saya, Alexius Justianto, Istiqomah Nur Latifah (Istiq), Rahma Widya (Rahma), Pretty Siska Budhiyati (Pretty), Talitha Marcia Farid (Tatha), Bernadette Yodia Indriastuti (Yodia), Dimas Sucipta (Dimas), Faris Hizrian (Faris) dan dikomandoi oleh fasilitator yaitu Karina dari MBA 49. Sebagai pemanasan, panitia meminta tiap grup membuat yel, intuisi spontanitas saya bekerja dengan menyadur lagu kopi dangdut dan mengubah liriknya.

Seperti pembekalan mahasiswa baru pada umumnya, kegiatan ini berlangsung dengan menitikberatkan pada pembentukan karakter dan value. Tri Utomo Wiganarto atau Pak Wiga, pemegang komando utama acara serta bos dari Indo Matrix Consulting selaku penyelenggara NLP kali ini, berulang kali memberikan frasa berbau semangat semacam “Are you ready?” yang harus diikuti oleh ucapan “Go-Fight-Win” dari para peserta, dan mantera alias Incantation dengan intensitas 100% hingga 300% dengan pose khasnya.

Para peserta pun diharapkan mampu bersikap terbuka terhadap kritik dan saran yang diberikan oleh rekan satu grup pada sesi Feedback. Seingat saya, sudut pandang kita akan begitu mempengaruhi sikap diri saat menerima suatu feedback. Orang terkadang menolak feedback karena menganggap hal tersebut adalah hal yang negatif, padahal hal tersebut hanyalah suatu info yang tak memiliki unsur positif maupun negatif dan hanya perlu untuk diresapi dan dimaknai.

Rangkaian acara hari pertama didominasi oleh materi slideshow dan semacam wejangan. Beberapa game ice breaking pun tak luput dihelat untuk mengakrabkan suasana, semacam game berjalan dari titik A ke titik B yang menuntut tiap mahasiswa berjalan dengan pose dan style yang berbeda. Apabila pose yang dilakukan dinyatakan sudah pernah dilakukan peserta lain maka peserta tersebut harus mengulangi dari titik A hingga pada akhirnya berhasil. Saya sendiri berjalan sambil memegang jaket yang dikibaskan layaknya matador. Aneh haha

Namun, adrenalin baru mulai terpacu setelah mengetahui bahwa keesokan hari setiap tim akan menjalankan sebuah challenge berbeda di tempat berbeda dengan tingkat kesulitan berbeda pula. Kelompok kami mendapatkan misi berbagi kebahagiaan dengan minimal 100 pasien Rumah Sakit Hasan Sadikin, entah itu berbagi makanan, buah-buahan, maupun yang lainnya. Persyaratan lainnya adalah kami dilarang mengatasnamakan ITB saat berkunjung. Misi akan dijalankan esok hari dengan waktu terbatas antara jam 6-9 pagi.

Diskusi mengenai pembagian tugas pun berlangsung selama kurang lebih 30 menit. Perkiraan budget kami buat, sekira kurang lebih 900 ribu. Seingat saya, Istiq yang menyanggupi untuk memasak bubur sumsum, Rahma dan Yodia yang akan mencari wadah untuk buah, Pretty dan Tatha mencari balon. Saya pun bekerjasama dengan kelompok 1 yang kebetulan mendapat tugas meningkatkan penjualan di Pasar Sederhana. Melalui ketua kelompok mereka, Egar Putra Bahtera, saya meminta agar mereka mengirim beberapa buah-buahan seperti jeruk dan pisang, lalu plastik bening pembungkus, dan wadah cup bening pada jam 7 pagi esok hari dengan harga yang telah disepakati. Deal. Permasalahan apa yang harus dibawa dan diberikan sedikitnya telah terselesaikan, tinggal satu permasalahan lain. Mengingat tempat yang akan kami datangi adalah instansi publik yang sensitif karena melibatkan para pasien yang membutuhkan ketenangan, maka saya, Alex, dan Dimas memutuskan mendatangi RSHS untuk meminta izin kepada pihak setempat.

Di sana kami bertemu dengan Pak Nuri Rahman dari bagian security. Sambutannya sangat hangat khas urang sunda, kami merasa cukup terbantu dengan keterbukaan pihak RS atas segala informasi yang kami butuhkan. Setelah menjelaskan maksud dari kedatangan kami, dari perbincangan malam itu di pos sekuriti, kami mendapatkan arahan untuk meminta izin bagian Humas besok pagi sekira pukul setengah 8. Kami pun disarankan untuk tidak memberi makanan kepada pasien sebagai antisipasi terhadap sesuatu yang tidak diinginkan, dan hanya boleh membagikannya kepada keluarga pasien yang datang. Hari pertama pun seles……ah iya belum, belum sepenuhnya selesai. Masih ada yang harus dituntaskan. Tugas individu sebanyak 7 soal. Terdengar sedikit? Sayangnya tidak. Saya pun baru terlelap pukul 3 pagi dan terbangun pukul…..4 pagi. ZZZZ.

2014329103734

2014329103811

Menuliskan 100 kelimpahan dalam hidup. Belajar bersyukur

8 Januari 2014

Setelah hanya terpejam selama 1 jam, bahkan mungkin kurang. Saya bergegas mandi, sholat, dan berangkat menembus dinginnya pagi. Ganesha masih begitu gulita saat sekira setengah 5 saya sudah menapakinya. Pukul 5 tepat barulah semua mahasiswa dikumpulkan di lapangan basket ITB. Pengarahan dan doa sebelum menjalankan misi disampaikan oleh Pak Wiga. Sebelum memulai pertempuran dengan waktu, saya sedikit mereview kembali skenario yang akan dijalankan hari ini kepada semua anggota kelompok. ….and the scenario is:

1. Datang dan berkumpul di lobby pukul 6.30

2. Menunggu kedatangan pak Nuri Rahman, dan kiriman buah-buahan, wadah, dan cup dari kelompok Egar cs.

3. Kiriman datang, saya, Alex, dan Istiq akan pergi ke humas dengan pak Nuri, sementara anggota lain mengemas buah-buahan dan bubur sumsum di area sekitar Gedung Kemuning yang menjadi obyek misi kali ini.

4. Saya, Alex, dan Istiq meminta izin ke bagian humas

5. Izin clear, buah-buahan pun siap disebar.

Rencana nampak sempurna untuk dijalankan, terdengar sangat feasible bukan? haha

Sayangnya, Allah menentukan hal lain untuk terjadi. Rencana 1-4 terselesaikan dengan lancar. Beberapa permasalahan seperti kenyataan bahwa budget yang ada harus dihabiskan sehingga Faris dan Pretty berangkat untuk mencari beberapa cake, untuk diberikan ke pihak security dan konsumsi anggota kelompok. Pikiran sudah melayang membayangkan misi yang akan segera selesai sebelum akhirnya kewenangan Humas sedikit menciutkan nyali kami. Pihak Humas meminta kejelasan maksud dan tujuan kami dalam bentuk surat izin, surat izin tersebut harus pula mengatasnamakan suatu lembaga agar apabila terjadi sesuatu hal yang diluar kehendak maka pihak RS memiliki arah yang jelas kepada siapa mereka akan menuntut. Saat itu waktu menunjukkan pukul 8, satu jam kurang sebelum penghujung waktu yang ditentukan.

Sembari memutar otak, kami berinisiatif memulai terlebih dahulu, membagikan apa yang ada kepada keluarga pasien yang tengah berada di ruang tunggu Gedung Kemuning. Dalam pikiran saya, setidaknya dimulai dahulu, setidaknya tidak nol besar, setidaknya pasti ada jalan keluar walau waktu terus berlari. Hingga suatu ketika Istiq teringat bahwa kakak perempuannya, dr. Zulaeha, bekerja sebagai dokter di RSHS dan memiliki lembaga sosial. Hal tersebut langsung kami jadikan sebagai solusi. Kami akan mengatasnamakan lembaga tersebut sebagai badan yang membawahi kegiatan sosial kami saat ini untuk memudahkan perizinan yang dibutuhkan oleh pihak Humas. Waktu terus mengerucut tak kenal ampun, kami pun mendatangi dr. Zulaeha yang bertugas di Gedung Kemuning lantai 6, tentunya dengan berkeringat dan napas tersengal, sementara beberapa di antara kami tetap membagikan buah-buahan yang ada di sekitar ruang tunggu IGD untuk mempertipis margin yang kami butuhkan untuk mencapai 100 pasien.

mtf_WgqOy_558

Sempat-sempatnya berfoto di tengah waktu yang semakin sempit sambil mengetik surat izin. Thanks to dr. Zulaeha (paling kanan)

Mendapati waktu semakin mendekati pukul 9, saya bernegosiasi dengan Karin selaku fasilitator untuk memperpanjang waktu kami sampai setengah 10, karena dari apa yang saya ketahui jam 9 hanyalah waktu agar kelompok kembali ke ITB lalu beristirahat sampai pukul 10. Seluruh anggota kelompok pun setuju untuk memangkas jatah istirahat mereka hanya untuk menuntaskan misi kali ini secara legal menggunakan surat izin. Surat izin yang dinantikan pun tuntas kurang lebih pukul 9.10. Saya meminta agar Rahma, Yodia, Tatha, Dimas, dan Pretty untuk siaga di Gedung Kemuning lantai 5, karena di lantai tersebut menurut arahan kakak Istiq dapat memenuhi kebutuhan kami sebanyak kurang lebih 70 pasien, sementara Faris bersiaga di dalam mobil dan siap mengangkut kami kembali ke ITB sesaat setelah selesai.

Lalu bersama Alex dan Istiq, saya berlari dari lantai 6 Gedung Kemuning ke arah kantor Humas yang jaraknya ujung ke ujung RSHS, benar-benar menguras keringat di pagi hari. Dikarenakan dokter jaga yang berwenang memberikan izin sedang menerima panggilan telepon, kami pun harus menunggu beberapa saat, sebelum sekitar 9.25 surat izin pun turun dan saya langsung memberikan arahan agar Rahma dkk. bergegas untuk bergerak dan menyebar buah-buahan kepada sebanyak mungkin pasien di sana. Saya pun terduduk lemas di kursi panjang sebelah pintu kantor Humas, ada perasaan lega namun masih didominasi perasaan cemas apakah misi 100 pasien ini berhasil dicapai. “Ah sudahlah.” pikir otak lelah saya.

Setelahnya, Karin menelpon saya agar semua berkumpul di lobby dan segera kembali ke ITB karena pukul 10 acara sudah berlanjut kembali. Di perjalanan menuju lobby, saya bertemu Dimas dan menanyakan berapa total pasien yang berhasil kita dapat, dan ia menjawab “135an..”. Seolah tidak percaya, ternyata hasilnya melebihi ekspektasi awal kami semua. Perasaan syukur membumbung dalam hati, bukan saja karena berhasil menuntaskan misi, namun keteguhan hati untuk menyelesaikan misi ini secara legal hingga detik terakhir dengan perizinan yang berhasil kami kantongi. Alhamdulillah.

Sekembalinya di Aula Barat ITB, acara dilanjutkan dengan evaluasi kinerja kelompok serta pemberian skor pada misi kali ini. Salah satu aspek penilaiannya adalah skor kepemimpinan dari masing-masing group leader. Masing-masing teman di kelompok saya memberikan pendapat masing-masing mengenai sisi leadership saya dalam misi RSHS, lalu memberikan skor pada rentang 0-100. Alhamdulillah, average score yang saya dapatkan dari keseluruhan anggota kelompok adalah 87. Memang ini bukan satu-satunya aspek penilaian grup, sehingga setelah skor di total dari seluruh challenge (termasuk challenge yel kemarin, jumlah dukungan dari peserta NLP saat masing-masing grup mepresentasikan hasil misi yang telah dituntaskan, Karaoke dan Crazy Dance menggunakan batik hari ini) grup kami menempati peringkat 10 dari 13 grup yang ada. Bukan hasil maksimal memang, namun entah mengapa saya tidak terlalu memusingkan hal tersebut karena dikalahkan oleh kepuasan menuntaskan misi besar di RSHS hari ini. NLP pun ditutup dengan berdiri melingkar sembari menyanyikan Heal the World dari Michael Jackson secara koor massal.

After

fasil 2

(Kiri-kanan) : Alex, Handry, Faris, Rahma, Istiq, Karin, Tatha, Pretty, Yodia, Dimas – NLP Group 2

2014110164319

 

Thanks for the 2-unforgettable-days experiences. It will definitely give a positive impact and sturdy improvement towards my leadership skill in the future.

 

Advertisements