Di antara dawai, ada yang terlukiskan. Mungkin ungkapan yang tertahan, atau hanya sekedar tersimpan. Tersimpan hingga usang, hingga tersadarkan bahwa mesin waktu hanyalah khayalan kosong. Mengharapkan berkali-kali dunia mati itu tak pernah ada, dunia tanpa kata, dimanakah suara itu.

Sedari awal telah begini, aku hanya ingin berkata namun apadaya. Hanya melalui ini kugantungkan harap. Harap dimana sesuatu yang bergemuruh ini dapat setidaknya tersampaikan, namun apadaya.

Kusandarkan lagi, berpikir lagi. Mungkinkah Tuhan memeluk mimpi-mimpi ini? Positifnya, tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya.

Tentang seorang tunawicara yang hanya mampu berkata melalui senar gitar. Mungkin ada di belahan dunia sana. Doaku bersama kalian.

  love

Advertisements