(Cerita Pendek ini terpilih dalam buku kompilasi cerpen ‘Kejutan Sebelum Ramadhan‘ jilid 15 yang diterbitkan oleh nulisbuku.com)

LOKA

“Selamat pagi Taman Lingkarhati. Sudah lama ya.” dalam benakku sembari kenangan yang telah lama tersimpan itu perlahan terurai di balik  embun pagi ini. Aku kembali mengeruk kedalaman ingatanku, seolah hari itu masih disini, seolah binar mata berpendarkan pelangi itu masih menatapku. ‘Daun’ itu telah gugur, mungkin telah 20 tahun ku tak memeluknya lagi. Merindukannya jelas, namun  ku sedikit terbantu oleh kesaksian tempat ini, kesaksian bisu mereka yang tak begitu banyak berubah. Dari gerbang lapuk berdebu yang bertuliskan “Taman Kanak-kanak Lingkarhati”, derit berisik dari ayunan yang sedikit bergoyang akibat terpaan angin, hingga seluncuran usang itu. “Ah, aku  tak kuat.” berkaca-kaca ku berucap, tersungging senyum kecil di wajahku. Dahulu itu, di tahun 1986, kala ku riang di sini, sesaat tak terasa kesadaranku melayang ke masa lalu.

..

            “Kakeek..” aku melompat kegirangan  setelah bel pertanda kegiatan belajar mengajar di TK Lingkarhati telah berdering nyaring. “Hoho, ini dia cucu kakek yang paling nakal sudah keluar.” ujar kakek sembari menggendong dan mengayunkanku. Seperti biasa, tak lupa beliau membawaku ke warung soto Madura kegemaranku di seberang TK untuk bersantap siang. “Wah wah, kek Soes gak pernah capek buat jemput nak Jeffry ya. Pesen kaya biasa nih kek?” sambut Mang Gino sang pemilik warung. “Itung-itung ngisi waktu lah mang, sudah sepuh gini biar tetap berjiwa muda. Biasa, 2 porsi, yang saya ga usah pake sambel, maklum perut veteran gampang mules.” ucap kakek sambil terbahak lebar dengan gaya candaannya yang terlanjur melekat. Begitulah kakekku, setelah menginjak usia 72 tahun kesehariannya kini dihabiskan dengan mencelupkan biskuit kering ke dalam teh dan menyantapnya sembari membaca koran pagi di kursi goyang, demi membunuh waktu hingga siang hari tiba lalu menjemputku pulang dari TK.

Sebagai cucu terakhir dalam keluarga, kakek nampak memberi porsi perhatian yang cukup bagiku. Di usianya yang telah lanjut, tak ayal ia ingin mengisi waktunya dengan bersantai menikmati hasil kerja kerasnya selama ini membanting tulang sebagai founder “Cicero”, nama brand untuk produk rajutan handmade yang ia rintis sedari muda, hingga kini telah merambah blantika fashion nasional bahkan internasional. Kepengurusan Cicero telah kakek wariskan kepada ayahku, selaku anak tertua dalam keluarganya, sejak 6 tahun yang lalu. Kini ia dapat lebih menikmati kesehariannya dengan lebih santai dan hanya memposisikan dirinya sebagai penasihat direksi.

Kegemarannya merajut terbawa hingga saat ini. Terkadang beliau merajut hingga lupa waktu, dan lupa untuk meminum obat asma yang acapkali kambuh. Walaupun demikian, beliau adalah pribadi yang disiplin menurutku, karena hingga saat ini tak pernah aku melihat ia melewatkan dirinya untuk dapat menghirup udara pagi dikala subuh. Minggu pagi selalu menjadi istimewa di benakku, karena kakek paling sering bermain gitar dan mengalunkan lagu-lagu semacam ‘Blackbird’, ‘Here comes the sun’ atau ‘Yesterday’ dari band kesayangannya, The Beatles.

Here comes the sun du du du du, here comes the sun and I say it’s allright. Little darling it’s been a long cold lonely winter...”

“Kek!” ucapku sambil mengusap mata dan menguap. “Eh, pagi cucuku. Sudah bangun ya kamu. Sini duduk samping kakek.” sapa kakekku pagi itu yang tengah duduk di samping kolam ikan di pekarangan.. “Itu lagu apa ya, kek? Kok selalu nyanyi lagu itu.” tanyaku. “Hahaha, bagus bagus, anak kecil itu harus penuh kepenasaran. Selalu ingin tahu ya. Good. Jeffry, kamu tahu negara Inggris?” sambung kakek bersemangat. “Uhmm, yang ada jam besar itu ya kek?” jawabku polos. “Big Ben maksudmu, nak? Betul. Cerdas ternyata cucu kakek. Suatu hari ada saatnya kamu akan menjadi penerus ayahmu di Cicero. Belajar yang rajin kamu.” seperti biasa kakekku selalu menyelipkan nasihat dalam obrolannya. “Iya kek, tapi kok pertanyaanku belum dijawab..” ucapku menagih.

“Eh iya ya? hahaha maafin kakek ya, maklum veteran perang sudah pikun. Jeffry, mereka adalah 4 pemuda Inggris yang diturunkan pencipta semesta untuk mengubah dunia dengan lagu-lagu mereka. Coba kamu pikir, berapa orang di dunia yang pada akhirnya menikah dengan pasangannya karena sama-sama menyukai lagu mereka?” ujar kakekku mulai menjelaskan.

“Wah, sehebat itu ya mereka?” kataku tak berhenti penasaran.

“Aku, dan nenekmu termasuk orang-orang yang beruntung saling dipertemukan oleh lagu mereka. Lagu yang kakek nyanyikan tadi adalah lagu kenangan kami berdua, makanya kakek sering menyanyikannya karena rindu almarhumah nenek yang meninggal setahun sebelum kamu lahir.” lanjut kakek sambil tersenyum, walaupun kutahu ia menahan air mata. “Yaah, kakek jangan nangis.” hiburku sambil menepuk punggungnya. “Mereka itu The Beatles, Jef. Mungkin suatu saat kaupun akan menyukainya.” pungkas kakek sebelum beranjak mengajakku pergi bersepeda mengelilingi komplek rumah.

Ilustrasi

..

Allahuakbar Allahuakbar…

7 tahun berlalu semenjak pagi itu. Senja ini seperti biasa adzan maghrib menggiringku kembali ke rumah. Peluh namun menyenangkan kuhabiskan bermain layang-layang bersama teman-temanku dari SMP Mutiara Bunda. Semakin bertambahnya usia semakin terasa ada jarak di antara aku dan kakek. Waktuku tersita oleh berbagai aktivitas sekolah yang menumpuk. Diluar jam belajar aku tergabung dengan tim sepakbola dan fotografi. Aku pun berusaha meluangkan waktu untuk bisa bergabung dalam kepengurusan OSIS. Entah mengapa, watakku seolah tergerus lingkungan sekitar. Aku bagaikan menjadi orang lain di mata kakek, berubah menjadi sosok yang kurang hangat, beberapa kali aku menolak dengan cara yang kurang halus apabila kakek ingin sekedar menjemputku di sekolah. Akupun tak mengerti, seolah mataku mengenakan kacamata kuda yang kaku dan memburamkan sekitar.

“Sudah pulang ya. Ayo makan sini. Temani kakek buka puasa.” ajak kakekku begitu aku masuk ke rumah dan mengucapkan salam.

“Nanti aja ya kek. Aku cape. Mau tidur dulu.” jawabku dengan ketus dan berlalu begitu saja masuk ke kamar tidur.

Kakek memang terbiasa berpuasa di bulan Syaban, bulan di mana Rasulullah memperbanyak ibadah puasa sunnah sebagai persiapan menjelang Ramadhan. Kesehatannya yang sudah tidak prima lagi tak menghalanginya menjalankan ritual tersebut. Dalam beberapa kesempatan kakek selalu memberiku masukan, namun selayaknya bocah seusiaku, aku masih saja membandel ketika diberi nasihat terutama nasihat mengenai hal-hal yang berkaitan dengan agama. Shalat saja terkadang masih sering absen, apalagi puasa sunnah.

..

Tak terasa, esok lusa telah Ramadhan. Sementara aku masih saja disibukkan dengan kepanitian acara buka puasa bersama satu angkatan yang dijadwalkan diadakan minggu depan. Aku bergegas menghabiskan sandwich yang kubuat sebelum ku pergi. Sambil terdudukdi kursi ruang makan, aku melihat kakek yang sedang merajut di atas kursi goyang. Pikirku, tak seperti biasanya kakek begini karena akhir-akhir ini kakek lebih sering menghabiskan waktunya di tempat tidur. “Kek, aku pergi dulu ya.” ucapku sebelum pamit menuju sekolah. Tak terdengar jawabnya, mungkin ia tak mendengar atau mungkin terlalu asyik pada rajutannya. Begitu pikirku.

Langit yang terselimuti awan hitam nampak ingin berkata-kata dalam diamnya, mengiringi riuh rendah kesibukan yang mendera seluruh panitia. Perdebatan panjang terjadi kala menentukan menu yang sebaiknya disajikan. Ada yang mengusulkan catering,  membawa bekal sendiri, adapula yang menyukai tantangan sehingga mengusulkan diadakannya masak bersama. Entah mengapa aku memilih untuk bungkam, tak terlalu terlibat dalam pusaran dialog yang berputar-putar di satu titik. Terdiam saja tidak tahu melamunkan apa. Sampai suatu ketika aku tersentak akan getaran ponsel yang menggelitik di kantongku. “Mama? Tak biasanya menelponku.” pikirku dalam hati.

“Halo ma, ada apa?” jawabku namun tak ada jawaban, yang kudengar di kejauhan sana hanyalah suara sesenggukan yang samar.

“Ma? Halo? Kenapa ma?” aku kembali bertanya.

“Cce..pat pulang Jef. Kakekmu.” sahut mama dengan lirih dan tertahan. Entah karena koneksi yang sedang jelek atau pulsa mama habis, atau apapun itu, sambungan telepon tiba-tiba terputus. Tak jelas pesan yang ingin mama sampaikan. Namun intuisiku berkata ada sesuatu yang terjadi dengan kakek. Aku memutuskan bergegas mengayuh sepeda menuju rumah.

 Jarak sekolah menuju rumah yang tak terlalu jauh membuatku dapat sampai dalam waktu 15 menit saja. Nafasku tersengal begitu menapakkan kaki di pekarangan rumah dikarenakan mengayuh dengan kecepatan yang tidak normal. Ku segera berlari ke dalam rumah, dan pemandangan yang kudapati….   

..

Ah, kek. Dulu ketika aku terjatuh dari seluncuran ini engkau pernah berkata untuk tidak melupakan bahwa itu hanya sebagian dari kehidupan, bahwa akan tiba saatnya kita kembaliberada di atas. Apa yang kau bisikkan itu terngiang begitu saja ketika ku memandang wajah terakhirmu yang dipenuhi senyuman. Di saat ku tak sempat mengucapkan sepatah kata pun kata perpisahan, kau yang telah ringkih itu entah mendapat energi tambahan dari mana hanya untuk sekedar merajutkan syal dan menulis surat untukku.

“Jeffry, kalau kau membaca surat ini berati kakek sudah tersenyum entah di langit di ufuk mana. Melihatmu tumbuh besar membuat kakek bahagia sekaligus kesepian. Itu wajar, kehangatan polos ketika dirimu TK yang kakek rindukan. Seiring waktu tumbuh rasa sungkan untuk ditemani kakek, itu wajar. Sisi bahagianya, kakek melihatmu tumbuh sebagai sosok yang aktif dan berprestasi, ada keharuan dan rasa bangga melihatmu di podium meraih penghargaan ‘Siswa berprestasi’ kala upacara kelulusan SD. Tugas kakek di dunia hampir mencapai garis finish. Kejarlah apa yang ingin kau kejar. Teruslah melangkah. Hangatkanlah sekitarmu, seperti halnya syal ini memberikan kenyamanan pada leher yang tak kuasa menahan terpaan angin kehidupan. – Kakek.”

  “…and I say it’s allright” Ya kek, lagu itu memang bagus, dan mereka memang legenda yang layak menerima beribu puja-puja itu . Penggalan lirik itu yang menopangku di saat ku merasa berada di situasi yang tidak mengenakkan, termasuk  di saat kehilanganmu.

Aku tahu kek, kakek merindukan kehangatanku dahulu ketika ku masih menenteng kotak makan dan gelas minum bulat ke TK ini. Maka dari itu aku kemari, membawa ini. Mungkin hanya syal, dan nampak sederhana. Namun asal kakek tahu, syal ini mencatat rekor penjualan tertinggi Cicero sepanjang masa kek. Kukaitkan di sini ya kek, di pegangan besi seluncuran ini, agar ia tetap memeluk erat kenangan kita di masa lalu. Perkenalkan kek, ini syal varian ‘Loka’, mewakili kehangatan Soesilo Kartanandjaja. Selamat beristirahat. Adios 

Handry

5 Juli 2013

Advertisements