Ada suatu kebiasaan lama yang sudah jarang saya lakukan, menulis apa yang terjadi setiap harinya dalam satu buku. Ya, semacam diary. Dari ‘batu pertama’ yang diletakkan di perawalan masa kuliah , hingga 120an halaman dari judul ‘Analysis of Garnier Men Consumers’ Perception Within “5 steps of consumer purchase decision process” on male undergraduate student in Bandung‘ rampung dibukukan sebagai hasil perjuangan demi mengenakan toga, kebiasaan menulis itu seolah tenggelam di antara serakan kesibukan. Sampai di masa transisi setelah kelulusan, ada suatu waktu lengang walau tak sepenuhnya lengang. Waktu yang cukup leluasa ini lebih banyak diisi dengan perampungan CV, hingga usaha melamar ke pelbagai perusahaan, walau dominasinya tetap dipegang membaca buku, berolahraga, dan memperbanyak doa. Ada sebuah tantangan yang menanti untuk dipecahkan di hadapan, ya, 3 bulan pertama menjadi seorang fresh graduate (FG), bahasa Mahahalus dari unemployment atau joblessness, adalah masa-masa penentuan sikap, mau dibawa ke arah mana kehidupan yang ada.

Bulan ke-3 sebagai seorang FG, bertepatan dengan bulan Ramadhan, bulan yang nampaknya enak untuk lebih banyak diisi dengan ibadah. Bukan diartikan sebagai sebuah bagian dari lepas tangan atas nasib diri, tapi toh seperti salah satu kalimat bijak yang pernah saya dengar ‘Mintalah apa yang engkau mau pada pemiliknya’ Di sini poinnya, saya merasa benar-benar harus melakukannya. Meminta padaNya. Tak risau akan hasil akhir, siapapun tak akan pernah mengetahui.

Beberapa hari lalu selepas tarawih secara munfarid, sejenak saya berbaring di kasur dan teringat bahwa di medio tahun 2009 saya sempat memiliki diary, yang telah lama tersimpan dan tak pernah lagi dibaca. Tergeraklah untuk membaca kembali, buku itu masih tersimpan di tempat dahulu terakhir kali ia tersimpan. Ketika membaca, melewatkan halaman per halaman, dari hari ke hari, cerita di mulai di penghujung 2008 di mana saya berada di persimpangan jalan ketika bimbang untuk meneruskan studi di Teknik Industri Unpar atau kembali mencoba USM ITB demi keinginan semula masuk SBM. Kala itu, keadaannya memang menekan saya untuk sebisa mungkin keluar dari kungkungan ‘Kerajaan Ciumbuleuit’ tersebut, selain karena nilai yang condong ke arah jurang degradasi, lingkungan pun tak kondusif untuk melanjutkan lebih. Tulisan dan curhatan saya didominasi hari demi hari yang diisi dengan les privat di rumah dengan beberapa guru yang cukup capable dalam bidangnya, serta tak lupa dibumbui gejolak romansa masa muda dengan salah seorang teman adik saya berinisial KA. Detail kejadian-kejadian tersebut tak begitu penting dituliskan di sini, namun apa yang saya tarik adalah ternyata dahulu saya punya semangat yang luar biasa demi mendapatkan apa yang saya inginkan, hal yang terasa hilang akhir-akhir ini selepas beberapa kali menerima pil pahit kala melamar pekerjaan. Tulisan curhat saya begitu jujur, seolah apa yang ada di dalam benak dituliskan mengalir begitu saja, bahkan hingga kata-kata yang tak pantas sekalipun, namun membuat tulisan saya tersebut terasa hidup. Benar-benar ada semangat di dalamnya. Berulang kali saya menuliskan tulisan yang menunjukkan seberapa besar keinginan saya untuk dapat tersaring masuk SBM ITB, berulang kali pula saya menebar tulisan yang penuh rasa optimis untuk dapat diterima oleh seseorang yang kala itu saya ‘incar’. Tulisan-tulisan rancak itu hanya bertahan hingga 25 Maret 2009, masa dimana saya menantikan hasil dari USM ITB, yang pada akhirnya berhasil saya raih walaupun diselingi berbagai hal yang menggangu pikiran semisal putus dari pacar 2 hari sebelum hari pengumuman.  Bagian ini, selalu menjadi bagian yang tak pernah gagal membuat tertawa kala mengingatnya kembali. Penuh intrik namun tetap tegap berdiri.

Timbul pertanyaan ke permukaan, kemana perginya semangat membuncah kala itu. Bukan berarti saat ini semangat itu tidak menyala, hanya saja entah mengapa semangat kala itu benar-benar berbeda, benar-benar ada kengototan. Di fase ini, yang ada hanyalah mencoba menyalakannya kembali, sesegera mungkin.

2222

Advertisements