Kadangkala, apa yang tersembunyi dapat lebih berseni, memang tak sepenuhnya tersembunyi, ‘Ia’ ada namun menggiring penyimaknya berpikir dan menafsir.

Religiusitas sebuah lagu terkadang dimaknai dengan kehadiran kata ‘Tuhan’ ‘Taubat’, ataupun hal-hal yang mengisyaratkan pemahaman langsung yang ingin disampaikan oleh Sang penulis. Entah merasa bahwa apabila ia membuatnya lebih rumit menjadi sulit dimaknai oleh pendengarnya ataupun terhenti pada kemampuan mengindahkan kalimat yang terbentur di sana, sudah tak mungkin untuk lebih baik.

Bagi saya pribadi, bermain dengan kalimat-kalimat tersirat adalah bagian dari kesenangan duniawi, sama halnya dengan menafsirkan ketidakpastian. Interpretasi kita kadang tak sejalan dengan apa yang dimaksudkan penulis, namun ini bukanlah eksakta ataupun ilmu pasti yang melulu mengharuskan adanya suatu jawaban yang pasti, ini dunia yang lain. Ada suatu kepuasan batin kala mendapatkan benang merah dari suatu rangkaian kalimat yang awalnya tak mudah dipahami.¬†Tersirat adalah ketika semisal ingin mengutarakan ‘aku mencintaimu’ namun disampaikan dengan ‘ada pelangi di matamu’ atau kecup di kening yang sederhana. Tidak berupa kata, namun menjadi ‘berwujud’ ketika nalar mencoba menggalinya.

Lagu religi yang cerdas kadangkala berisikan lirik yang seolah berada dalam ranah universal namun yang sebenarnya terkandung nyawa ketuhanan di dalamnya. Atau bahkan lagu tersebut awalnya dibuat bukan dalam arti ketuhanan, di sisi lain dapat diinterpretasikan demikian. Lagu ‘Sebelum Cahaya’ dari Letto dan ‘Terbangun Sendiri’ dari Noah adalah sebuah contoh nyata pengintegrasian lirik yang tidak secara vulgar menggambarkan hubungan vertikal manusia dengan Sang Pencipta, namun disiratkan secara pintar. Mungkin tak ada yang menduga bahwa ‘Terbangun Sendiri’ adalah puncak rasa kesepian Ariel ketika mendekam dalam sel tahanan, dimana tak ada tempat berbagi kecuali pada-Nya. Dalam dirinya, yang merasa sempat ditelan arus kehidupan dunia yang mengguncang arah, timbul suatu kerinduan di penghujung malam yang menuntun memohon pada-Nya agar tetap menemani. Menemani hingga pagi menjelang kala terjaga dari rasa letih, ia tak ingin hanya terbangun tanpa-Nya menemani.

Bukan. Bukan mengenai lagu yang ingin saya bagi di sini, melainkan masa dimana kita menginterpretasikan kehidupan. Dari lagu-lagu indah tersebut, yang hanyalah buah ciptaan manusia, dapatkah ditarik suatu hipotesa “Mungkin, atau sebenarnya memang, Allah pun senantiasa ‘bermain’ dengan hal-hal yang tersirat?” Sejujur tangisan bayi yang meminta sesuatu di balik kalimat yang tak dipahami. Apakah ia menginginkan sebotol susu? Mungkin iya, tapi lebih tepatnya mungkin Allah hanya ingin kita selalu berpikir. Sepahit tangisan diri kala apa yang direncanakan tak sepenuhnya terjadi. Apakah sebenarnya Ia menginginkan kita menangis? Tidak, ia ingin kita selalu berpikir, dan mendawamkan dalam hati “mungkin bukan di sana jalanmu”, “ada secercah masa depan yang lebih baik”, serta kalimat husnudzan lainnya.

Untuk diri saya sendiri

Advertisements