Aku hanyalah buah yang terjatuh, yang hanya bermula dari kesiapan akar menopang beban dahan, tumbuh di sana hingga masanya dipetik atau mungkin tak kuasa dan terjatuh sendiri. Perwujudan akhir dariku hanyalah bermula dari sebagaimana perlakuan yang diterima sebelum masa kematanganku, atau setidaknya masa peralihan menuju terlepas dari dahannya, untuk pada akhirnya bertumbuh dari biji yang ada, hidup berputar dan menjadi pohon pada waktunya.

Tak perlu menyalahkanku jika saat ini engkau tak puas dengan buah yang telah terlahir, saya hanyalah buah yang terjatuh, yang diayomi tangkai dan kuatnya akarmu. Akarmu adalah akal pikirmu, yang menopang hidupmu, sementara saya hanyalah buah yang menanti terjatuh dan menggantungkan kesiapanku pada naunganmu.

Dan tak selamanya buah yang terjatuh pertanda busuk, saudaraku Apel nun jauh di masa lalu sanggup menginspirasi dunia dengan gravitasinya. Maka sebagaimanapun aku di kala kematanganku, seperti apapun kekuatan akarmu menular padaku, di saat aku nanti dihadapkan pada kehidupan hakiki, kuharap akan ada yang memetik sesuatu dari apa yang kutempuh, terjatuh ataupun tidak. Kuharap tidak, dan kalaupun memang Tangan Yang Mengatur berkata lain, buah yang terjatuh sekalipun masih sanggup menjadi akar dan menumbuhkan mimpi dan inspirasi dari buah pohon yang baru.

222

Advertisements