Ada cerita menarik beberapa hari yang lalu. Saya mengikuti tes rekrutmen untuk suatu perusahaan. Memang tes semacam ini tak membutuhkan persiapan belajar dan semacamnya, saya pun demikian, akhir-akhir ini saya lebih memilih membaca buku bernuansa religi. Bukan buku pembahasan yang terlalu mendalam, lebih kepada seperti apa yang harus kita yakini dalam menjalani hidup. Salah satu yang melekat dalam benak adalah poin pentingnya bersedekah. Ustadz Yusuf Mansur adalah salah satu yang konsisten menyuarakan hal tersebut, tak terkecuali di dalam salah satu bukunya yang berjudul “Semua bisa jadi pengusaha”. (Kalem dulu, ini tulisan bukan salah satu bentuk promo atau semacamnya). Dan yang menarik adalah ketika menemukan kebenaran dengan mengaplikasikannya sendiri.

Jadi cerita bermula pada Sabtu 15 Juni yang lalu, memenuhi invitasi dari PT.Philips Indonesia untuk mengikuti seleksi di gedung FSRD ITB. Berbeda dengan beberapa psikotes yang pernah saya ikuti sebelumnya, hari ini psikotes dipecah menjadi 3 tahap: IST, Pauli, dan tes gambar (wartegg, pohon, gambar orang dsb.). Selesai IST, peserta dipersilahkan keluar, untuk menunggu hasil siapa saja yang mendapat kesempatan untuk mengikuti tahap 2. Pada waktu pengumuman, saya dan Omar, teman seperkuliahan di SBM, tercantum namanya. Kami melanjutkan ke tes Pauli atau tes koran. Kurang lebih 1 setengah jam tes ini berakhir. Peserta kembali dipersilahkan keluar untuk menunggu hasil. Panitia menyediakan nasi kotak bagi tiap peserta untuk disantap sembari menunggu.

Saya dan Omar memilih untuk makan dengan duduk di anak tangga tepat di sebelah ruangan tes. Baru beberapa menit duduk, datang seekor kucing kelaparan yang tak hentinya mengeong memelas mengharapkan ‘donasi’. Sudah lazim memang melihat kelakuan kucing seperti itu di berbagai tempat, yang tak biasa hanyalah kucing liar satu ini nampaknya punya jiwa ‘salesman‘. Biasanya kucing hanya diam di hadapan orang seraya mengeong dan meminta, tidak halnya dengan si kucing gendut satu ini. Dia melompat ke samping saya bahkan nyaris mengintip apa yang ada di kotak makan. Entah memang sangat kosongkah perutnya atau bagaimana, hati saya pun luluh dengan mulai memberinya makan siang gretongan. Mulai dari tempe, hingga dimana ia bosan dengan tempe, hingga saya dan Omar mulai membagi beberapa bagian daging ayam. Si kucing pun keenakan dan berulang kali datang. Di tengah ‘ujian kesabaran’ makan siang saat itu, kami berdua sempat menceletukkan jokes yang sama “Jangan jangan kucing ini malaikat”. Bermodal guyon itu, saya malah legowo membagikan sisa ayam yang tersisa, “Yaudah gih, makan sono” dalam benak sambil melempar sisa ayam yang membuat si kucing berlari mengejar dengan semangat. Setelah selesai makan, panitia pun keluar dari ruang tes dengan membawa list peserta yang berhak mengikuti tes berikutnya. Dengan harap-harap cemas, Alhamdulillah nama saya, juga Omar lagi-lagi tercantum. Ada rasa syukur, mengingat tak mudah untuk lolos dari lubang jarum suatu tes, bahkan saya dan Omar tak lulus tes serupa yang diadakan Pertamina beberapa bulan lalu. Hari itu pun diakhiri dengan sesi interview. Psikolog dari ITB mempertanyakan seputar diri saya dan motivasi memilih perusahaan. Proses yang cukup melelahkan dan baru berakhir menjelang maghrib tersebut menyisakan pengharapan, karena hasil tes dan interview untuk kelolosan tahap selanjutnya belum akan diumumkan. Saya pun pulang dengan doa mengharapkan hasil terbaik.

Hingga saat nanti hasil diumumkan, lolos ataupun tidak saya ke tahap selanjutnya, hari itu mata saya dibukakan oleh seekor kucing suatu kebenaran dari indahnya berbagi. Ada suatu kemudahan dalam langkah yang terasa, bahkan membuka pintu rezeki yang tak terduga. Mungkinkah itu reinkarnasi kucing kesayangan Rasulullah, Mueeza? Ataukah kucing tersebut memang jelmaan malaikat layaknya guyonan yang terlontar? Pertanyaan-pertanyaan itu sebenarnya tak memerlukan jawaban. Karena siapapun itu, kucing atau bukan, berbagi itu memang selayaknya dilakukan dan memang salah satu kunci dalam kehidupan. Wallahu a’lam.

kucing

Advertisements