#HandryGuitarSharing – Langkah Awal Belajar Menjadi Youtube Content Creator

Tags

, , , , , , , , ,

Beberapa bulan kebelakang, saya sedang dilanda keranjingan dalam menonton Youtube. Saya bisa katakan ini sebagai Chandra Liow’s effect or maybe, Tim2One’s effect. Why? Karena sebelum-sebelumnya, saya hanya membuka Youtube untuk melihat highlight dari gol-gol pertandingan sepakbola dan mencari beberapa informasi. Ya hanya itu. Namun, kehadiran Chandra membuka mindset bahwa Youtube adalah sebuah platform personal branding yang ampuh jika serius digeluti.

Dalam channel nya, Chandra pada awalnya dikenal sebagai content creator yang gemar membuat video komedi sketsa bersama teman kuliahnya dan teman di komunitas Indovidgram (yang tak lain kebanyakan adalah teman-teman kuliahnya juga di Universitas Multimedia Nusantara alias UMN).

Salah satu signature utama dari Chandra adalah konsistensinya dalam memproduksi video dengan editing dan visual yang berkualitas. Tak peduli itu hanya video tentang bloopers nya dalam proses shooting, ia tetap menggarapnya dengan serius dan profesional.

A. Apa hasil dari Chandra Liow’s Effect?

Berkaca dari hal tersebut, saya yang dari dulu sudah memiliki akun di Youtube namun hanya sekedar pasif sebagai pemirsa, mencoba mengisinya dengan beberapa video. Ada video klip dari lagu ciptaan saya sendiri beserta lyrics video nya, ada juga Vlog dari momen-momen menarik dalam keseharian saya, entah itu momen persalinan istri, bermain bersama anak ke taman, mengganti popok anak, dan seterusnya.

Dari proses pencarian jati diri, saya menetapkan bahwa ke depannya akun Youtube saya akan diisi oleh 3 hal:

Musik: Lagu original, Hagusha (Handry Guitar Sharing), cover lagu-lagu hits

VLOG: Momen-momen menarik yang terjadi sehari-hari

Creative & Marketing: Sharing ringan mengenai ilmu Marketing dan hal-hal kreatif sesuai latar belakang pendidikan saya.

B. Lahirnya #HAGUSHA

Full video: “Keluarga Chord” – Handry Guitar Sharing Ep. 1

Mengingat pada dasarnya saya mencintai musik dan gitar (telah menggeluti gitar selama kurang lebih 13 tahun, dari 2004 kelas 2 SMP) maka sangat beralasan bahwa dua hal tersebut merupakan tema yang tepat untuk diangkat sebagai main content dalam channel Youtube saya.
Akhirnya setelah berpikir sejenak, tercetuslah ‘Handry Guitar Sharing‘ a.k.a #Hagusha untuk mendapatkan spotlight utama.

Di episode pertama ini saya memutuskan untum membahas mengenai ‘Keluarga Chord’ karena saya pikir pengetahuan tersebut dapat menjadi basic knowledge bagi gitaris pemula untuk mulai mendalami gitar.

C. Kenapa bukan ‘Tutorial’ tapi ‘Sharing’? 

Saya ingin menghindari kesan menggurui dengan pemilihan kata ‘tutorial’, maka saya memposisikan diri sebagai orang biasa yang kebetulan sudah lama main gitar dan ingin sekedar berbagi ilmu.

D. Target market?

Untuk Hagusha sendiri saya pikir saya akan mengisinya dengan konten untuk pemula sebanyak 90%, dan sisanya 10% untuk mid to high class. Kenapa? Karena ya saya juga ga begitu jago, kebanyakan otodidak, sehingga lebih pas untuk sharing ilmu kepada gitaris pemula.

E. Tiap berapa lama bakal update?

Karena saya masih merupakan content creator pemula, dengan subscribers yang masih sangat minim (9. hahaha), belum ada jadwal pasti untuk update nya. Tergantung kesibukan, dan waktu luang yang didapat. Apalagi untuk sekarang ini, Youtube masih sekedar hobi saja, bukan mata pencaharian yang ditekuni.

F. Subscribers dikit ngapain upload?

Saya berpegang teguh pada ‘Upload saja videomu, seolah akan ada ratusan ribu orang yang datang menonton..’ #Cie

Advertisements

[Opini] Sales & Marketing Serta Perbedaannya

Tags

, , , , ,

Di Indonesia, adakalanya istilah Sales dan Marketing bercampur dan kerapkali disamaartikan. Padahal menurut opini pribadi saya, walaupun kedua posisi tersebut biasanya bekerja dalam satu divisi, masing-masing memiliki porsi, peranan, serta indikator performa yang berbeda.


Sales, ujung tombak perusahaan yang berurusan langsung dan berperan memberikan penawaran harga beli kepada channel penjualan, mulai dari General Trade (kios, toko bangunan, toko kecil, dsb.), Modern Trade (Hypermarket, Supermarket, dsb.), dan Industrial (Hotel, Salon, dsb.). Performa mereka jelas diukur oleh seberapa banyak mereka dapat menjual serta menjaga hubungan baik dengan channel/account.

Sementara Marketing, lebih banyak berperan membangun awareness dari brand yang dihandle melalui berbagai strategi seperti memasang iklan (iklan banner aplikasi, banner & baligho di pinggir jalan dll.), meriset perilaku pasar, on air di tv & radio, promosi via sosial media, menerbitkan voucher, menulis blog dengan artikel yang related to product, mengikuti exhibition, menyusun event promosi seperti quiz, give away, launching, dsb., endorsement, flyering, handling dan monitoring proses pembuatan desain dari marketing tools. Indikator performa utama dapat dilihat dari jumlah marketing activities yang dieksekusi, tingkat keberhasilan serta pencapaian target, market share terkini, tingkat awareness serta future purchase produk melalui data riset.

Walau keduanya memiliki peranan yang cukup berbeda, tujuan utamanya tetap sama, membuat calon konsumen mau dan teryakinkan untuk membeli produk yang kita tawarkan, baik itu secara B-to-B, maupun secara B-to-C.

Youtube. Senjata Promosi Andalan Terkini Para Musisi Dalam Negeri

Tags

, , , , , , , , , , , , ,

Masih hangat terlintas dalam ingatan bagaimana sebuah berita tentang gulung tikarnya perusahaan jual beli CD musik, Disc Tarra. Kebangkrutannya menandai era baru, era digital, dimana penjualan fisik tak lagi menjadi santapan utama kebanyakan penikmat musik, setidaknya seperti itu kondisi industri tanah air saat ini.
Tak hanya perusahaan jual beli CD yang kebakaran jenggot, para label dan artis pun harus mulai beradaptasi dan menyusun strategi yang tepat sesuai dengan kondisi terkini.

Tak pelak, media sosial menjadi alternatif paling mutakhir yang sangat perlu diperhitungkan dan dimasukkan dalam strategi promosi.

Youtube dan Musisi

Di luar negeri, tren Youtube telah lebih dahulu meledak. Justin Bieber dan PSY adalah contoh paling mudahnya.

Sementara di dalam negeri, tren Youtube semakin meningkat dalam dua tahun terakhir. Hal tersebut merupakan efek domino dari konsistensi juga gencarnya Youtubers Indonesia ‘senior’ semacam Raditya Dika, SkinnyIndonesian24 (Andovi dan Jovial Da Lopez), Reza Arap Oktovian, Bayu Skak, Chandra Liow, Cameo Project, Edho Zell, dan masih banyak lainnya, dalam membuat berbagai macam konten menarik yang menumbuhkan gairah para content creator pemula untuk berkarya.

Tak terkecuali para musisi tanah air yang sebelumnya belum memaksimalkan marketing channel ini.

Yang paling gres tentunya adalah pencapaian Virgoun Tambunan dengan single solo nya “Surat Cinta Untuk Starla” yang mampu menembus 100 juta viewers! Diikuti dengan ex vokalis Drive, Anji Manji, dengan single “Dia” yang menjadi viral dimana-mana, ditonton tak kurang dari 86 juta viewers, diganjar platinum, hingga secara resmi digunakan oleh Google sebagai anthem salah satu campaign teranyar mereka ‘Google Selalu Tahu Musik’. Pencapaian tersebut diikuti pula oleh Armada dengan lagu ‘Asal Kau Bahagia’ dengan raihan 87 juta viewers hingga tulisan ini tayang.

Statistik diatas berbicara bahwa para musisi sudah dapat dikatakan wajib dalam memproduksi konten musik mereka dan berpromosi via Youtube. Mengapa?

Mengapa Harus Youtube?

Dari beberapa komen para musisi yang sempat saya baca, ada beberapa alasan yang dapat digarisbawahi tentang mengapa Youtube menjadi sangat penginv bagi mereka saat ini, ini dia diantaranya:

a. Indikator baik buruknya suatu lagu. Lagu dengan jumlah view serta likes yang banyak, serta banyak dibawakan oleh para cover musician, dapat menjadi suatu indikator bahwa lagu tersebut diterima dengan baik di masyarakat. 

Tingginya kedua hal tersebut pun dapat mengubah mindset seseorang terhadap lagu, hal tersebut sempat dikatakan Virgoun, bahwa di awal kemunculannya “Surat Cinta Untuk Starla” dianggap standar dan biasa saja, namun seketika berubah dianggap sangat bagus ketika mencapai jumlah view serta likes yang tak diduga-duga.

b. Promosi yang relatif murah namun berpotensi memberikan imbal balik yang besar jika sukses. Imbal balik di sini dapat berupa tawaran manggung, endorsement, kontrak iklan, penjualan RBT, penjualan lagu via aplikasi download legal semacam iTunes, Joox, Spotify, MelOn, dll., juga tentu penghasilan dari adsense.

c. Kolom komentar dapat menjadi masukan berharga. Di dunia maya, orang lebih merasa bebas dalam berkomentar, sehingga komentar yang dilontarkan biasanya memang jujur dan ditulis dari hati. Masukan serta komen negatif yang muncul tentunya harus dapat disingkapi dengan positif sebagai evaluasi untuk strategi ke depannya.

d. Dapat diakses 24 jam. Sekali sebuah video diupload ke Youtube, maka video tersebut dapat diakses selama 24 jam nom stop. Hal ini yang tak dapat dilakukan oleh stasiun televisi yang hanya menayangkan video klip pada acara tertentu. Tentunya berpromosi di Youtube lebih efektif karena tak ada lagi batasan jam untuk menikmati video klip serta lagunya (Kecuali, kalau paket data habis. Ya iya)

Setelah kesuksesan fenomenal Virgoun, Anji, dan Armada, siapa lagi yang akan menjadi perbincangan hangat berikutnya? 

Saya berdoa, semoga NOAH berikutnya, mampu mengulang kembali keberhasilan yang wah dari “Separuh Aku”.

Go-Jek Yang Terus Melebarkan Sayap

Tags

, , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Menghadapi persaingan era digital, para pegiat bisnis harus senantiasa melek dengan perkembangan zaman, tak terkecuali pemain di bisnis teknologi.
Sentuhan teknologi di pertarungan memperebutkan market saat ini sudah suatu keharusan, mengandalkan cara konvensional sudah tak lagi cukup untuk sekedar bertahan.

Dahulu penjualan secara offline tentunya menjadi ujung tombak suatu perusahaan dalam mengeruk pendapatan dan terus menggulirkan bisnisnya.

Kalau diingat ingat, tukang martabak zaman dahulu ya begitu saja, membuka gerai, menanti kedatangan pembeli yang kelaparan, lalu mendapatkan uang, tanpa memikirkan peluang penghasilan tambahan dari orang-orang yang lapar namun sangat malas untuk pergi keluar dan membeli. Hotline untuk delivery mungkin ada namun perlu disadari bahwa akan ada expenses yang sangat besar di sana untuk menggaji karyawan demi sekedar mengantarkan makanan, belum lagi berapa jumlah armada delivery yang dibutuhkan untuk memenuhi semua demand yang masuk. 
Hal ini lama kelamaan disadari, bahwa ada zona yang selama ini belum tergarap dengan baik. 

Kemunculan Go-Jek

Di sanalah mulai bermunculan model bisnis yang dilatarbelakangi oleh problem tersebut. Sebagai orang asli Bandung, saya sangat tahu bahwa sebelum Go-Jek lahir, bisnis bernama Taki Bike, dengan ciri khas warna kuningnya, sudah muncul di kota kembang dengan model bisnis yang nyaris serupa, sebagai kurir dan moda transportasi on demand dengan mengandalkan twitter dan telepon untuk melakukan order, serupa dengan Go-Jek di awal perjalanannya.

Seiring dengan perjalanan waktu, yang kuatlah yang bertahan di rimbanya persaingan bisnis. Taxi Bike tenggelam, dan Go-Jek semakin berkibar dengan kekuatan suntikan modal besar dari investor. Terakhir tak kurang dari Rp. 7 trilyun yang dikucurkan oleh sejumlah investor pimpinan KKR & Co. dan Warburg Pincus.

Tak dapat dipungkiri, geliat Go-Jek, sebagai satu-satunya aplikasi lokal yang mampu menahan gempuran ‘pemain asing’; Uber & Grab; dalam mengembangkan bisnisnya terletak pada inovasi berkelanjutan yang dimunculkan secara setahap demi setahap.

Saya termasuk pengguna Go-Jek generasi awal, dari Go-Jek hanya memiliki fitur Go-Ride alias fitur ojek itu sendiri, hingga kini telah terdiversifikasi ke dalam jenis bisnis lainnya. Semua itu dilalui Go-Jek dengan jalan yang tak mudah, beberapa hadangan muncul di tengah jalan. Selain persaingan bisnis, muncul juga gesekan antar moda transportasi, clash tak terelakkan antara driver Go-Jek dengan ojek pangkalan dan juga driver taksi konvensional. Namun, lama kelamaan hal-hal tersebutpun mulai surut seiring dengan meningkatnya tingkat pemahaman orang mengenai Go-Jek.

Fitur Go-Jek terkini

Kini, dengan Go-Jek, orang dapat memesan mobil dan taksi untuk bepergian dengan Go-Car dan Go-Bluebird, lalu dapat dengan mudah membeli makanan tanpa perlu keluar rumah menggunakan Go-Food, mengirim barang menggunakan Go-Send dan Go-Box untuk barang berukuran besar, membeli barang di suatu toko dengan Go-Mart dan Go-Shop, membeli obat dengan Go-Med (Yang saat ini telah berafiliasi dan hanya dapat diakses dengan aplikasi Halodoc), membeli pulsa dan paket data dengan Go-Pulsa, melihat rute Bus Transjakarta dan pergi ke halte tedekat dengan Go-Busway, memanggil jasa pijat, bersih-bersih rumah, dan perawatan rambut dengan Go-Massage, Go-Clean dan Go-Glam, membeli e-ticket dengan Go-Tix, dan juga memanggil jasa montir kendaraan bermotor dengan Go-Auto.

Tak cukup sampai di situ, Go-Jek telah melengkapi layanannya dengan fitur yang akan menjadi masa depan transaksi pembayaran yaitu sistem cashless dengan adanya Go-Pay.

Selain itu, Go-Points pun dihadirkan oleh Go-Jek sebagai sebuah loyality programme bagi para pengguna Go-Jek yang bertransaksi menggunakan Go-Pay. Dengan poin-poin yang telah dikumpulkan, para user dapat menukarkannya dengan voucher atau hadiah yang sedang berlaku.

Meluasnya lini bisnis Go-Jek membuat Nadiem Makarim selaku CEO sadar bahwa kini perusahaanya tak lagi hanya sebuah perusahaan aplikasi transportasi namun telah meluas menjadi aplikasi on-demand. Untuk itulah, layanan Go-Massage, Go-Clean, Go-Auto, dan Go-Glam tak lagi dapat dibuka diaplikasi Go-Jek melainkan telah dibedakan dalam satu aplikasi terpisah bernama Go-Life.

Sponsorship Liga 1

Demi mempertegas eksistensi si ‘Karya Anak Bangsa’ ini, Go-Jek, bersama Traveloka, tak ragu mengguyurkan dana belasan milyar untuk kelangsungan Liga 1 sepakbola Indonesia yang telah dimulai beberapa minggu kebelakang. 

Tentunya keputusan tersebut dilandasi oleh pertimbangan terhadap potensi bisnis yang sangat besar mengingat sepakbola merupakan olahraga terfavorit di dalam negeri dan sesuai dengan bisnis model Go-Jek sendiri. 

Dimana orang dapat membeli tiket pertandingan via Go-Tix, pergi ke stadion via Go-Car atau Go-Ride, dan memesan makanan via Go-Food bagi para penonton layar kaca yang membutuhkan sekedar cemilan sebagai teman menonton sajian live pertandingan.

What’s next?

Menarik disimak terobosan apalagi yang akan dihadirkan oleh Go-Jek ke depannya. Bagi saya, masih banyak peluang bagi Go-Jek untuk memperlebar sayap mereka ke berbagai lini jasa.

Dari saya sendiri ada beberapa ide kasar:

a. Go-Sport: Menghubungkan pusat kebugaran seperti tempat fitness dengan para Go-Jek user yang kurang hapal dengan fasilitas olahraga di sekitarnya.

b. Go-Biz: Menghubungkan konsultan bisnis yang memiliki offline office dengan para Go-Jek user yang membutuhkan advice dalam hal bisnis dsb.

c. Go-Law: Menghubungkan para kantor lawyer, konsultan hukum dan semacamnya dengan Go-Jek user yang membutuhkan bantuan hukum segera

—–

** Kalau menurut kamu, fitur apalagi yang harus dibuat oleh Go-Jek? Tulis di komen bawah ya.

#NulisRandom2017 #GojekIndonesia


Tangisan Dari Surga Menjelang Sahur

Tags

, , , , , , , , , , , ,

Sebuah tendangan kecil, ditambah tangan mungilnya yang menarik-narik baju Aini sebagai tanda haus menginginkan susu, lalu jika tak digubris maka seketika ia akan menangis. Tangisan dari surga tanpa dosa itulah yang membangunkan tidurku pada sahur pertama Sabtu 27 Mei 2017 kemarin tepat pada jam 4 pagi, alias setengah jam kurang sebelum imsak dan adzan subuh.

4 bulan lebih sudah ia hadir ke dunia. Dalam rentang waktu itu pula lah ia berkembang begitu pesat. Dari berat lahir di kisaran 2.71 kilogram, hingga kini telah mencapai tak kurang dari 8.1 kilogram. Tingkah laku, kepolosan, pipi yang tembem, bentuk kepala yang sempurna, suara yang merdu, kaki yang montok, tawa yang renyah, dan juga tangisan yang indah, semuanya terangkum dalam satu nama ‘Zufar Qalifa Ghaizannoah’.

Laksana anak panah yang melesat begitu cepat, detak waktu pun tak memandang ketidaksiapan kita untuk mengejar kecepatan larinya, ia melaju dan melaju tanpa henti, hingga tersadarkan telah berada dimana kita saat ini.

Tahun lalu, Ramadhan masih saya lalui berdua saja bersama istri, walau ia telah berbadan dua, tapi kehamilannya belum memasuki bulan ke-4 sehingga dapat saya katakan kalau Zufar belum benar-benar hadir saat itu.

Dan dengan berbagai perjuangan dan lika liku nya, kami berdua dimampukan oleh Allah SWT untuk menyelamatkan nyawa kehadirannya ke dunia. Tak sedikit cerita yang dapat membuat kami tersenyum mengingat kembali masa-masa perjuangan itu. 

Mulai dari Aini yang mengalami pendarahan di awal kehamilan sehingga harus diopname serta full bed rest selama beberapa minggu, lalu momen dimana Aini harus kembali bed rest setelah melalui tes CTG akibat gerak bayi yang sangat aktif , daya juang Aini yang hebat yang rela meluangkan waktu untuk senam hamil dan jalan kaki entah itu ke supermarket ataupun ke tukang kelapa muda, dan yang paling krusial adalah momen kegalauan beberapa kali ganti dokter dan rumah sakit (Mulai dari RSIA Kemang dengan dr. Agung Witjaksono, lalu mencoba ke dr. Kingky Tjandraprawira di RSIA Limijati, hingga akhirnya menetapkan pilihan pada RSIA Grha Bunda dibawah penanganan dr. Anita Rachmawati ; dengan pertimbangan jarak RS yang cukup dekat dari rumah Aini, serta yang paling utama adalah karena ia perempuan).

Kini Ramadhan telah kembali menyapa. Suasana khasnya sudah begitu terasa. Lantunan pengajian bergema, penjaja takjil marema, shalat malam seirama, makan sahur dan buka puasa bersama keluarga. Nikmat sekali. Sudah sebuah rezeki dapat kembali dipertemukan dengan bulan penuh berkah ini, apalagi dengan ditambah kehadiran istri dan anak laki-laki pemberani nan sholeh di dalamnya. Maka mari bersyukur atas segala yang telah Ia cukupkan kepada kita.

Pergeseran Identitas Di Balik Selimut Eksplorasi Musikalitas?

Tags

, , , ,

pic: loudwire.com

“Holding on, why is everything so heavy.”

Penggalan lirik di atas sedang sering sekali keluar masuk telinga saya. 

Tak ada yang nampak salah dan janggal, departemen lirik oke, aransemen musik easy listening, ditambah beberapa part yang ketukannya sedikit tidak familiar di telinga pop indo saya, namun setelah didengar berulang menjadi sebuah signature di lagu ini (part awal: “I don’t like my mind right now. Stacking up problems that are so unecessary..”)

Semua nampak ‘tidak pada tempatnya’ setelah tersadarkan pada kenyataan bahwa lagu ini merupakan single terbaru Linkin Park, sebuah band yang kental dengan genre nu-metal pada awal kemunculannya.

Sebenarnya momen ini bukanlah kali pertama saya menyadari adanya pergeseran genre yang diusung oleh LP. Track ‘What I’ve Done’ dan ‘New Divide’ menjelaskan semua, bahwa mungkin secara perlahan, LP ingin beralih dari bayang-bayang kesuksesan Hybrid Theory dan Meteora, mereka tak ingin terjebak di sana, di zona nyaman yang membesarkan mereka hingga imej tersebut sudah terlalu kuat mengikat.

Tak heran, saya cukup terperangah sesaat setelah pertama kali mendengarkan “Heavy”. Semuanya seperti ditelan bumi, tidak ada lagi aroma Faint, Breaking The Habit, serta Numb di dalamnya, berubah secara drastis menjadi pure mellow pop mainstream yang akan mudah sekali disukai banyak kalangan.

Lagu ini membuat saya sejenak berhipotesa, menebak beberapa kemungkinan alasan dibalik pergeseran musikalitas mereka. Apakah:

a. disebabkan oleh tidak memuaskannya penjualan serta respon pasar terhadap “The Hunting Party” album terakhir mereka sebelum ‘Heavy’

b. murni karena sebagai musisi mereka selalu ingin bereksplorasi dan tak hanya hidup di satu genre saja

c. karena Chester Bennington sudah tidak terlalu mumpuni lagi atau merasa lelah untuk melakukan scream berulang kali dalam tour nya

d. karena alasan untuk re-generasi penggemar. Lagu-lagu pop seperti ini mungkin mereka anggap sebagai senjata ampuh merengkuh pasar orang-orang kelahiran tahun 2000 keatas yang sedang beranjak dewasa, karena di satu sisi penggemar lama mereka semakin menua dan tidak bertambah secara signifikan.

e. strategi pemasaran album terbaru mereka ‘One More Light’ yang akan rilis tengah Mei ini.

Dari 5 kemungkinan di atas, poin ‘b’ lah yang sering diutarakan oleh pentolan LP, Mike Shinoda di kala sesi wawancara terhadap pertanyaan yang telah sering ditanyakan banyak orang tersebut. Walau tak menutup kemungkinan poin b tersebut diutarakan untuk menutupi alasan sebenarnya. Maybe

“The band, with every album, every song we’re trying to challenge ourselves. We like to try new things. We want to explore new territory with the sounds and the songwriting. We’ve always been about mixing styles; I mean, Hybrid Theory was the name of our band before we changed it to Linkin Park. Linkin Park fans know that with every album you never know what you’re going to get, and the style can change dramatically and different elements, different genres that we listen to might sit more in the forefront than others.” – Mike Shinoda, 2017 

(http://www.billboard.com)

Melihat perubahan dramatis ini, saya sempat iseng mencari di Youtube dan menemukan cukup banyak musisi cover yang mengaransemen ulang Heavy ke dalam versi ideal mereka, yang kebanyakan ditransformasikan ke arah Rock dan Metal version. Jika dikatakan ‘Heavy’ adalah strategi pemasaran mereka, kemunculan banyak musisi yang membuat cover lagu tersebut bisa menjadi indikator keberhasilan awal mereka dalam menjual album ke-7 ini (Bahkan saya pun dengan sendirinya tergerak untuk menuliskan posting blog ini, tanpa diminta).

Pro kontra yang bermunculan pun tak kalah menarik. Perang komentar terbangun tanpa dapat dibendung yang meningkatkan level viralitas ‘Heavy’ beserta ‘One More Light’.

Dengan segala kontroversinya, kita tinggal menunggu dan menyaksikan sejauh mana album terbaru mereka mampu mengaum dan bergaung.

Branding vs Marketing

Tags

,

Pic source: http://cummingscreativegroup.net/assets/images/blog/mainshot_logo_vi.jpg

Dalam suatu perbincangan, anggap saja antara Diego dan Alvaro, muncul suatu pertanyaan yang dilemparkan Alvaro pada Diego, mengenai perbedaan branding dan juga marketing
Sebagai seorang konsultan di bidang pemasaran, Diego berpikir sejenak untuk dapat menjelaskan secara mudah dan jelas.
“Ah begini, Alv.”
“Kita mulai saja dari perumpaan kasusnya. Anggaplah ada Mr. X, seorang pengusaha sepatu yang memutuskan datang ke Mr. Z, seorang konsultan, untuk meminta advice tentang bagaimana ia harus mulai memasarkan sepatunya.” buka Diego pada Alvaro
——
“Siapa target market dari sepatumu ini?” buka Mr. Z
“Pasar premium, dominan pria, menengah ke atas tentunya, yang memiliki penghasilan di atas 5 juta.” jawab X lugas
“Oke, lalu apa keunggulan sepatumu dibandingkan dengan kompetitor?” lanjut Mr.Z
“Sepatuku ini dibuat secara handmade, tidak menggunakan mesin, kualitas kulitnya serta bahan pendukunya pun nomor satu, diimpor langsung dari Amerika. Di Indonesia, yang seperti ini masih cukup jarang.”
Sounds good, mau dijual di range harga berapa sepatumu?”
“Kupikir masih cukup masuk akal untuk dijual di harga 800 ribu sampai 2 juta. How?” ujar Mr. X cukup yakin
“Oke lah. Menurutku dengan budget awalmu, menjual secara online dulu bisa jadi solusi. Kusimpulkan bahwa secara 4P, Productmu adalah sepatu premium, yang memiliki Pricedi rentang 800 ribu – 2 juta. Kusarankan untuk Promotion‘, kau fokus dulu membangun kredibilitas secara online (‘Place‘), jika memungkinkan, endorse beberapa public figure yang memiliki imej high class untuk meningkatkan kepercayaan publik. Lalu jika penjualan sudah baik dan modal sudah terkumpul kembali, putar kembali uangmu itu dengan menjadi sponsor di beberapa event yang sesuai dengan target market mu untuk menghadirkan produkmu itu secara offline dan lebih dekat dengan para potential customers.”
Nice idea. Lalu apalagi?” ucap X penasaran
“Secara visual, untuk mencitrakan sepatu premium, kau harus konsisten mengunggah foto atau video produkmu yang High Quality. Jangan pernah sekali-kali menampilkan foto yang buram, blur, terkesan asal-asalan karena akan merusak branding yang ingin dibangun. Oiya, ingat branding juga tak melulu tentang produk, kalau kau fast response dalam menjawab pertanyaan dan order yang masuk ke HP ataupun e-mailmu, itupun dapat menjadi nilai plus di mata konsumen. Imej produk berkualitas + pelayanan yang maksimal pun bisa terbangun, tapi tentu harus konsisten.” Jelas Mr. Z
——
“Hmm aku mengerti sekarang.” celetuk Alvaro
“Dari cerita tadi sekarang kau bisa simpulkan seperti apa itu Marketing dan Branding kan, Alv?”
“Menurutku, branding adalah aktivitas dalam membangun suatu imej yang ingin disematkan sebagai karakter pada suatu produk. Tentunya sebelum melakukan proses branding kita pun harus terlebih dahulu mengenali produk yang ingin dijual, siapa vendor yang dapat dipercaya untuk menjadi produsen, apa saja keunggulannya, siapa target market utama, harga jual yang akan dipatok, dan di mana kita harus fokus memasarkan produk tersebut. Dari situ kita dapat menyusun marketing strategy baik secara online maupun offline, juga branding yang ingin dibangun dan disisipkan dalam strategi yang sudah dibuat. Jadi sebenarnya branding dan marketing itu saling mengisi, demi mencapai target sales yang diinginkan ya?”
“Ya kurang lebih seperti itu Alv. Simpelnya, marketing itu bagaimana kita menjangkau dan dapat terlihat oleh konsumen, sementara branding adalah bagaimana kita ingin dipersepsikan dan dapat dipercaya oleh mereka sehingga semakin tumbuhlah keinginan mereka untuk membeli produk kita.

Pic source: http://www.firebrand.co.uk/img/insights/branding-v-marketing.svg

Ditulis di malam Selasa bertepatan dengan Isra Miraj, di penghujung April sambil merasakan demam di kepala. Entahlah, tiba-tiba ingin menulis hal ini.

Zufar Mendadak Eksis di Instagram @marioteguh!

Tags

, , ,

Semua ini berawal saat saya mengajak Zufar berbicara dan ngobrol di hari Minggu yang lalu. Karena kebiasaan mendokumentasikan suatu momen, membuat saya selalu bersiap dengan kamera digital maupun kamera HP, dan sambil mengobrol tersebut saya merekam gerak-geriknya yang sangat lucu dan menggemaskan.

Di suatu detik, tiba-tiba ia mengeluarkan suatu gerakan yang seketika mengingatkan saya pada ‘signature move‘ atau gerakan khas dari Mario Teguh saat mengucapkan “Itu” di setiap rentetan kalimat motivasinya.

Suatu ide pun terbersit untuk membuat suatu video jokes singkat yang mengaitkan Mario Teguh saat memberikan motivasi dengan gerakan tangan Zufar tersebut.

Tak menunggu lama, beberapa saat setelahnya, dengan hanya mengandalkan Movie Maker, Youtube, dan Adobe Photoshop, saya pun merealisasikan imajinasi yang sudah tergambar di otak. Total video jokes tersebut hanya berdurasi 13 detik, namun pengerjaannya cukup memakan waktu karena tak mudah memilih kalimat motivasi Pak MT yang mana yang akan saya tampilkan (untuk memilihnya, saya mengubek-ubek video yang diunggah di Youtube Pak MT yaitu channel MarioTeguhTV)

Setelah selesai, video tersebut pun saya unggah di akun Instagram pribadi, @handrymar, tak lupa mention dan tag @marioteguh dengan harapan beliau melihatnya.

Tak disangka, selang beberapa saat setelah video diunggah, Pak MT membubuhkan komentarnya di video tersebut, suatu hal yang jarang dilakukan seorang public figure sepertinya.

MT

@marioteguh berkomentar di video “Zufar, Sang Motivator Cilik”

Setelah beliau berkomentar, yang lebih mengejutkan lagi beliau me re-post video tersebut ke akun IG miliknya! Sebuah apresiasi yang menyenangkan hati dan cukup membanggakan.

Hingga saat ini, video yang diupload di akun @marioteguh dengan URL https://www.instagram.com/p/BS8m-gSFb8d/ tersebut sudah dilihat lebih dari 38 ribu kali! Kau lebih terkenal ya sekarang Zufar, papahnya kalah telak hahaha

Screenshot_2017-04-23-19-52-48-871.jpeg

Beruntungnya, tidak ada komen nyinyir terhadap video tersebut, kebanyakan positif dan terhibur dengan kalimat yang diucapkan Pak MT serta tentunya kelucuan Zufar yang menirukan gerakannya.

Jika dilihat dari sisi digital marketing, kunci kesuksesan video ini menjadi lumayan viral adalah pemilihan konten yang simpel tapi mengena (tentang cinta yang mudah diterima banyak orang), dan tentu saja ‘keberuntungan’ karena seorang Mario Teguh mau secara cuma-cuma memposting video tersebut (Bayangkan berapa biaya sekali posting di akunnya yang sudah memiliki followers lebih dari 3 juta).

Sebagai penutup, doa seorang papah muda: “Semoga anakku ini memang akan semakin berkembang menjadi anak yang kreatif, pintar, terkenal dengan kehebatan dan bakatnya, juga berguna bagi orang banyak. Aaamiin YRA.”

handry

Pertemuan Pertama Dengan Zufar

Back again,

Sudah lama blog ini tidak terisi sesuatu, sedikit berdebu dan harus dihiasi kembali dengan cerita yang baru.

Well, ini tentu bukanlah cerita baru. Sudah 3 bulan lebih berlalu semenjak hari itu, hari dimana saya bertemu untuk kali pertama dengan sesosok bayi laki-laki sehat yang terlahir ke dunia dengan berat 2.71 kg + tinggi 49 cm, disematkan padanya nama indah: Zufar Qalifa Ghaizannoah.


Singkat cerita,

istri saya, Aini, telah memasuki minggu-minggu rawan terjadinya persalinan pada awal Januari 2017. Bulan-bulan sebelumnya, dokter yang memeriksanya memberikan sebuah prediksi bahwa kemungkinan besar persalinan terjadi sekitar tanggal 20an Januari, bisa lebih cepat ataupun lebih lambat 2 minggu, tidak dapat dipastikan secara merinci.

Semenjak kehamilannya memasuki bulan ke 8, Aini memang sudah memutuskan untuk cuti melahirkan dan mengungsi ke rumahnya di Bandung, sementara saya tetap berada di Jakarta untuk mengurus bisnis saya kala itu, Martabak Mini Rainbow di bilangan Ampera Raya, Jakarta Selatan, dan hanya pulang sekitar 2 minggu sekali.

Lalu pada tanggal 4 Januari 2017, Aini memutuskan pergi ke dokter karena beberapa kali merasakan gerakan-gerakan pada perutnya. Namun di akhir konsultasi, dokter menyimpulkan bahwa persalinan kemungkinan besar terjadi 2 minggu lagi. Saya yang kala itu berada di Jakarta cukup tenang dengan informasi tersebut dan menunda kepulangan saya ke Bandung karena menurutnya masih 2 minggu lagi.

Tak disangka keesokan paginya, saya mendapatkan kabar mengejutkan. Kabar tersebut tidak datang dari Aini, namun dari ibu saya yang berkata bahwa Aini sedang menuju RSIA Grha Bunda karena sudah mengalami kontraksi serta memasuki tahap pembukaan 5. Pesan Line tersebut saya terima mungkin sekitar jam 8 pagi.

Berbekal googling tentang informasi durasi jeda antar pembukaan, saya yang masih awam mengenai hal ini berkesimpulan bahwa rata-rata untuk persalinan pertama biasanya pembukaan 10 alias terakhir dicapai setelah menghabiskan waktu kurang lebih 12 jam semenjak masuk ke ruang UGD.

Dengan asumsi tersebut, saya berharap masih memiliki waktu untuk dapat menemani perjuangannya dalam melahirkan anak pertama kami. Benak awam saya berhitung sejenak dan menghasilkan hipotesa bahwa pembukaan 10 kemungkinan masih sekitar 6-7 jam lagi, atau sekitar jam 2 sore. Lagi-lagi semua hanya berdasarkan info googling tadi.

Di situasi nyata, hal tersebut terbantahkan. Kuasa Allah bermain di sana.

Aini diberi kemudahan yang sangat luar biasa dalam proses melahirkannya.

Sungguh di luar dugaan, pembukaan 10 berhasil ia capai pada jam 09.31, alias hanya berselang satu setengah jam dari kondisi pembukaan 5! Kaget dan takjub menjadi satu.

Saya yang saat itu masih berada di Bus menuju Bandung (Tiket travel sold out, karena semua serba dadakan) hanya dapat mengucap syukur Alhamdulillah, walau tersimpan sedikit rasa penyesalan tidak dapat mendampingi istri dalam jihadnya secara langsung.

Namun, saya rasa semua itu hanya skenarioNya. Legowo saja.

Saya baru dapat tiba di Bandung pukul 16 lebih, setelah menempuh perjalanan hampir 7 jam, dikarenakan bus yang tidak dapat melewati tol Purbaleunyi akibat sedang adanya perbaikan dari Jembatan Cisomang. Dan baru benar-benar tiba di Rumah Sakit pada jam 5 sore.

Akhirnya, perjumpaan pertama itu terjadi.

Sosok yang selama ini hanya dapat kulihat melalui USG, dari tendangan-tendangannya di dalam perut, ternyata memiliki wajah yang sangat rupawan, suara tangisan yang indah, dan Insya Allah calon laki-laki yang tumbuh menjadi orang yang sholeh dan sukses. Aamiin YRA.


Do not forget to watch the video above, and subscribe to my Youtube channel! 😉

[Update CV] February 2017

Tags

, , , , , , , , , , , ,

cv-handry-feb-2017

Waktu cepat sekali berlalu, dari terakhir kali saya mendesain CV pada bulan Agustus 2016, hingga kini saya telah resmi menjadi seorang Ayah dari anak laki-laki ganteng bernama Zufar Qalifa Ghaizannoah (Saya belum sempat menuliskan tentangnya di blog ini, tapi jika penasaran ada video detik-detik pertemuan pertama saya dengan Zufar: https://www.youtube.com/watch?v=LSmOq6YjIfg&t=3s)

Mungkin ini akan menjadi habit baru saya kedepannya, menyegarkan CV per 6 bulan sekali agar tetap up-to-date dan fresh.

Di atas adalah desain CV terbaru saya, desainnya lebih disimplifikasi agar terlihat lebih mature ketimbang versi desain sebelumnya. Didominasi warna merah tua untuk menonjolkan ‘keberanian’ dan ‘semangat’, juga agar terlihat lebih outstanding dibandingkan CV lainnya yang menumpuk nantinya di ruangan HRD. Haha

See you on the next posts

handry